Kontak Redaksi: WA 0813-8728-4468, email: koordinator.liputan@gmail.com
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Andri Krisnanto: Target 10 Juta UMKM Go Digital Harus Didukung Tiga Hal Ini



LUGAS
| Jakarta
- Andri Krisnanto, Pengamat Bisnis Digital UMKM, dalam sebuah forum diskusi di Jakarta menyatakan sikap optimis, bahwa target Pemerintah agar UMKM Go Digital mencapai target angka 10 juta di akhir tahun 2020 dapat terwujud.

“Perubahan life style masyarakat di Indonesia akibat Covid 19, ternyata berdampak positif kepada pertumbuhan sektor UMKM yang merambah bisnis digital. Aktifitas yang dilakukan di dalam rumah dalam hal ini Work From Home, membuat masyarakat Indonesia mencari kemudahan dalam bertransaksi dan berjual beli yaitu secara online," ungkap Andri.

Namun, untuk mewujudkan target tersebut, perlu kiranya Pemerintah memberikan dukungan di beberapa hal, setidaknya tiga hal di bawah ini, yaitu:

Pertama, melek digital 

Kriteria melek digital antara lain adalah ketersediaan jaringan internet yang memadai di pusat-pusat UMKM di seluruh Indonesia disertai dengan kemampuan penggunanya. Ketersediaan jaringan internet di Indonesia sudah sangat bagus, terbukti pengguna internet di Indonesia nomor enam dunia. Namun hal ini belum sebanding dengan kualitas pengguna yang angkanya masih di bawah 5% dari sekitar 175,4 juta orang. Sehingga masih membutuhkan edukasi.

Maka dari itu, pemerintah diminta hadir dalam memberikan edukasi penggunaan layanan digital seperti e-commerce yang terprogram dan berkelanjutan sampai di pelosok-pelosok desa dimana terdapat sentra-sentra UMKM.

“Perusahaan penyedia platform teknologi digital akan senang apabila mereka digandeng pemerintah untuk diberdayakan,"  ujar Andri.


Kedua, sertifikasi produk


Berbicara sertifikasi produk, tidak hanya berkaitan dengan jaminan kehalalan namun sisi kualitas juga perlu perhatian khusus. Terpenuhinya kedua hal ini akan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk berbelanja dengan menggunakan platform digital. Maka dari itu, UMKM perlu dibukakan akses informasi, kecepatan layanan, dan biaya murah untuk sertifikasi halal. Sedangkan dari sisi kualitas perlu langkah panjang dan diskusi dengan banyak pihak, namun langkah awal dapat dimulai dengan penambahan syarat dari penyedia platform bahwa pemilik produk bisa memberikan jaminan kualitas produk.


Ketiga, bantuan permodalan

Dari data yang disampaikan Kementerian Koperasi dan UKM, nilai perdagangan di pasar online memiliki potensi senilai US$40 miliar, diperkirakan potensi pasar online ini terus meningkat, pada 2025 besarnya diperkirakan mencapai US$133 miliar atau setara Rp1.300 triliun. Jika diasumsikan rata-rata harga pokok penjualan 70% dari penjualan, maka diperoleh angka US$ 28 miliar sebagai modal atau sekitar Rp. 420 triliun. Saat ini, baru sekitar 14% pasar digital yang diramaikan oleh pelaku UMKM. Sehingga bisa diperkirakan kebutuhan permodalan untuk UMKM agar bisa bersaing di layanan digital sekitar Rp. 50-60 Triliun.

Andri Krisnanto, Pengamat Bisnis Digital UMKM


“Tentunya pemerintah tidak bisa sendirian untuk memberikan bantuan permodalan. Lembaga keuangan perbankan dan penyedia platform digital dapat pula disinergikan untuk mendukung program bantuan permodalan,” terang Andri.

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenkop UKM, Arif Rahman Hakim, mengatakan pihaknya cukup optimistis target 10 juta UMKM go digital pada 2020 ini dapat terpenuhi.

"Target 10 juta bisa terlampaui pada akhir 2020. Pasar online ini potensinya luar biasa, Indonesia pasar terbesar di Asia tenggara, peluangnya pemakai internet pemakai aplikasi, jumlahnya sudah lebih dari 120 juta," jelas Arif, Senin (10/8/2020).

Berdasarkan data Kemenkop, sementara ini sudah terdapat 9,4 juta UMKM atau bertambah 1,4 juta  dibandingkan dengan data awal 2020 yang jumlahnya mencapai 8 juta UMKM.


Reporter: Bintang Alive | Editor: Mahar Prastowo

Peringati HUT RI Ke-75, Sedulur Jawa Taliabu Tebar Benih Lele



GEN-ID | Taliabu - Sedulur Jawa Taliabu (SJT) menabur benih lele di beberapa titik sungai dan rawa di Kabupaten Pulau Taliabu, pada hari Minggu (16/08/2020). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati HUT RI Ke-75.

Tebar benih lele ini  menindaklanjuti hasil musyawarah pertemuan rutin SJT yang diadakan bulan juli lalu di kediaman Dr. Agustinus Herimulyanto, S.H, M.H.Li. Dalam pertemuan itu telah disepakati bahwasannya SJT akan membeli bibit lele dan ditabur di beberapa sungai. Bibit lele yang dipesan dari kota tetangga terdekat yaitu kota Luwuk-Banggai, Sulawesi Tengah, itu pun  tiba di Taliabu bertepatan dengan momentum peringatan hari kemerdekaan.


Baca Juga:
Sedulur Jawa Taliabu (SJT) Kembali Temu Silaturahmi
Sedulur Jawa Taliabu Akan Tanam Benih Lele di Daerah Aliran Sungai

Acara tabur benih lele  dipimpin langsung oleh Ketua Paguyuban Sedulur Jawa Taliabu M. Taufik Hidayat dan dihadiri dewan pembina SJT Dr. Agustinus Herimulyanto, S.H, M.H.Li beserta seluruh anggota SJT.

Tempat tebar benih lele dipusatkan di tiga lokasi  yaitu depan Pasar Baru Taliabu, Jalan Talo dan  Kali Air Kilong. Tempat-tempat tersebut dinilai cocok untuk perkembangbiakan lele sehingga lele bisa aman dari serangan hewan lain.



Agustinus pun berpesan kepada anggota SJT supaya selalu ikut andil dalm kemajuan untuk negri ini tanah air kita tanah Indonesia meskipun  hanya dalam hal kecil apalagi untuk kepentingan umum seperti tebar lele. "Mungkin akan bisa bermanfaat di suatu saat nanti" ujar Agustinus.

Baca Juga:
Sedulur Jawa Taliabu Kerja Bakti Pasca Banjir Bersihkan Bak Air PDAM
Cegah Wabah Corona, Paguyuban Sedulur Jawa Taliabu Semprot Disinfektan

Selain itu, hal lain yang juga bermanfaat bagi banyak orang, antara lain SJT selama musim hujan berlangsung ikut membantu membersihkan bak air PDAM yang jika banjir kerap tersumbat pasir. Dengan membantu rutinitas PDAM tersebut,  pekerjaan cepat terselesaikan serta  air bersih cepat mengalir dan bisa digunakan masyarakat banyak.

"Semoga SJT terus semangat  dan lebih bersemangat dalam meningkatkan  kepedulian untuk ikut memperhatikan kepentingan umum meskipun dalam hal yang kecil atau sepele namun bermanfaat bagi orang banyak. Seperti dalam acara ini, tebar benih lele, juga acara kemarin ikut bantu PDAM. Semoga ini langkah awal kepedulian kita terhadap lingkungan demi kepentingan umum dan dapat dilakukan seterusnya," urai Agustinus.

Lele yang ditabur di alam bebas diharapkan bisa berkembang biak menjadi banyak dan ada populasi ikan lele sehingga dikemudian hari bisa bermanfaat dan bisa menjadi kenangan khususnya paguyuban SJT. [L]

Reporter: Bima Sumpono | Editor: Mahar Prastowo

Pramuka Sako Persada Nusantara Dorong Kemandirian Pangan

Reporter: Agus Wiebowo | Editor: Mahar Prastowo






 
GEN-ID | Kota Tangerang - Arif Nurokhim, S.H, Ketua SAKOCAB SPN (Sekawan Persada Nusantara) Kota Tangerang mengungkapkan bahwa masa pandemi covid-19 ini ajang untuk Pramuka menunjukkan jati dirinya sebagaimana tertuang dalam janji Tri Satya dan Dasa Darma.

Arif yang juga di Sakonas Sekawan Persada Nusantara, menghimbau kepada Sakoda SPN Provinsi dan Sakocab SPN Kab/Kota dalam masa pandemi Covid-19 melakukan kegiatan kemandirian pangan.





 
"Khususnya Pembina/Penegak Pandega seluruh Indonesia dengan budidaya lele sambil menanam sayur-sayuran semisal kangkung, bayam, pokcoi dan lain-lain, buah-buahan, memelihara ayam, enthok, kambing," ujar Arif Nurokhim.

Arif juga berpesan kepada seluruh Pramuka terutama Sakocab di SPN Kota Tangerang dan juga Sakonas, agar dalam masa pandemi ini semakin meneguhkan diri sebagai seorang Pramuka dengan dapat melaksanakan tekad dan janji pramuka dan Tri Satya dan Dasa Darma.





Kemandirian pangan menjadi penting ditengah pandemi covid-19 yang mana terjadi penurunan produktifitas di segela bidang termasuk pangan.

Dengan dapat mengusahakan sebagian bahan pangan yang dibutuhkan, akan menghemat pengeluaran belanja keuangan bahkan hasilnya dapat dijual sehingga bernilai ekonomi.

Pada dasarnya Pramuka telah menjiwai bangsa Indonesia, karena kepanduan atau kepramukaan telah diajarkan dalam pembentukan karakter sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan perguruan tinggi juga.



Untuk mengingat kembali Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka, ini dia selengkapnya.

Tri Satya


Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh:
Menjalankan kewajibanku kepada Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila;
Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat;
Menepati Dasadarma


Dasadarma

1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan ksatria
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela menolong dan tabah
6. Rajin, terampil dan gembira
7. Hemat, cermat dan bersahaja
8. Disiplin, berani dan setia
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan


"Sebagaimana satya atau janji kedua dalam Tri Satya dimana disebutkan, demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat," ungkap Arif.

"Nilai-nilai dalam Tri Satya dan Dasa Darma sangat relevan dalam pembentukan karakter masyarakat dan bangsa Indonesia. Apalagi ditengah pandemi seperti saat ini dimana dibutuhkan jiwa besar untuk tetatp bersabar menghadapi cobaan dengan tetap beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta dalam bermasyarakat dan berbangsa harus saling bekerjasama, tolong menolong, saling menyayangi sesama , hidup hemat dan tentunya semua itu dilakukan dengan gembira," terang Arif.

Menurut Arif, seorang Pramuka hidupnya selalu bergembira, dan dengan kegembiraan itu akan membentuk suasana bahagia, yang mana dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga tidak mudah putus asa dan jatuh sakit.

Salam Pramuka!

Walikota Jakarta Timur Berikan Penghargaan Kepada 10 Ketua Gugus Tugas RW Terbaik

Walikota Jakarta Timur bersama 10 Ketua RW penerima penghargaan sebagai Ketua Gugus Tugas RW Terbaik

GEN-ID | Jakarta - Walikota Jakarta Timur Muhammad Anwar, bertempat di Pesantren Persis 69 Matraman Jakarta Timur, pada hari Jumat (14/08/2020) menyerahkan piagam penghargaan dan apresiasi kepada 10 (sepuluh) Ketua Gugus Tugas RW Terbaik dalam Percepatan Penanganan Covid-19 periode II bulan Agustus 2020.

Apresiasi Walikota Jakarta Timur  selain diberikan dalam bentuk piagam penghargaan, juga berupa bantuan perlengkapan seperti Dispenser, sabun cuci tangan, hand sanitizer, baju hazmat, face shield, karbol cair dan ember.

Berikut ini kesepuluh Ketua RW terbaik di wilayah Jakarta Timur yang mendapat penghargaan sebagai Gugus Tugas RW Terbaik dalam Percepatan Penanganan Covid-19.

1. Aris Widodo (Ketua RW 06 Utan Kayu Selatan, Matraman),
2. Drs. H. Bustami (Ketua RW 09 Jatinegara, Cakung),
3. Sutono (Ketua RW 06 Tengah, Kramat Jati),
4. Ir. Sartomo Gatot Subroto (Ketua 08 Pondok Kopi, Duren Sawit),
5. Samsuri (Ketua RW 06 Cilangkap, Cijantung),
6. Sumarmin (Ketua RW 02 Ciracas, Kec. Ciracas),
7. Agus Hermawan (Ketua RW 03 Kebonpala, Makasar),
8. Iswahyudi (Ketua RW 06 Jatinegara Kaum, Pulogadung ),
9. Drs. H. Sugeng Karno (Ketua RW 08 Gedong, Pasarebo),
10. Muhammad Fadil Pahamsyah (Ketua RW 01 Balimester, Jatinegara).

Agus Hermawan, Ketua RW 03 Kebonpala, Makasar menerima piagam penghargaan sebagai Ketua Gugus Tugas RW Terbaik dalam Percepatan Penanganan Covid-19


Ditemui usai menerima penghargaan, Agus Hermawan mengatakan bahwa penghargaan ini didasarkan pada inisiatif dan kinerja RW dalam melakukan upaya-upaya guna mengendalikan penularan Covid-19 di wilayahnya.

Atas pencapaian ini Agus mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras selama ini di wilayah kerja RW 03 mulai dari Ketua-ketua RT, Ibu-ibu Dasa Wisma, PKK, Jumantik, FKDM, Karang Taruna dan seluruh warga.

Ia berharap kinerja yang telah dicapai dapat dipertahankan dan ditingkatkan bersama seluruh pihak.

Agus Hermawan Ketua RW 03 Kebonpala bersama Lurah Kebonpala














Sebelum pelaksanaan penyerahan penghargaan Pembinaan Gugus Tugas RW dalam Percepatan Penanganan Covid-19 dan Penyerahan Sertifikat PTSL di Kecamatan Matraman Kota Administrasi Jakarta Timur, Walikota didampingi sejumlah pejabat di lingkungan kota administratif Jakarta Timur meninjau sejumlah tempat di Kecamatan Matraman.

Pada kesempatan tersebut Camat Matraman Andriansyah, SE, MM. M.Si melaporkan mengenai berbagai program di wilayah kerjanya ditengah masa pandemi Covid-19.

Camat Matraman Andriansyah

Salah satunya adalah rencana melaunching Kampung Sehat, yang mana program ini hasil kerjasama dengan pihak ketiga salah satunya adalah Pertamina. Disamping itu juga ada Pembangunan Hidroponik guna penguatan ketahanan pangan masyarakat, pembuatan biopori, serta pengadaan mobil sehat, APD, dan perahu karet.

Pada kesempatan yang sama Walikota didampingi Kepala Kantor Pertanahan Jakarta Timur juga menyerahkan secara simbolis sertifikat PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) yang diserahkan secara bertahap.

Red.: Mahar Prastowo

Bidik Komunitas KPOP, Kopi “CHUSEYO” Tetap Eksis Ditengah Pandemi Covid-19

Reporter: Bintang Alive | Editor: Mahar Prastowo

GEN-ID | Jakarta - Perkembangan bisnis kopi siap minum dan kedai kopi di tanah air tumbuh dengan pesat. Beragam tema, dekorasi dan cara meracik kopi ditawarkan sebagai salah satu konsep pemasaran guna menarik pelanggan.

Kebiasaan ngopi sambil kumpul bersama teman, meningkatnya daya beli kaum menengah, dan dominasi anak muda dalam menikmati kopi, menjadi faktor pendorong tumbuhnya bisnis ini. 

Nah, ditengah maraknya kopi bertema cinta, Kopi “Chuseyo” hadir  dengan  nuansa Korea banget. Jargonnya,  “The Only KPOP Hub in The Nation”.

Kopi "Chuseyo" menangkap peluang dari hebohnya Korean Wave yang meliputi  drama, music, fashion, makanan dan minuman itu.



“Fanbase KPOP dan komunitas pecinta budaya Korea merupakan market yang sangat menjanjikan karena jumlahnya berkembang sangat pesat dan dapat ditemukan di seluruh kota di Indonesia. Kegemaran mereka untuk mencoba hal-hal baru bernuansa Korea, memiliki loyalitas tinggi dan serta daya beli yang tinggi, mendorong kami untuk menghadirkan kedai Kopi “Chuseyo” sebagai tempat nongkrong bareng sesama KPoper dan menyalurkan hobinya,” tutur  Daniel Hermansyah, Co-Founder Kopi “Chuseyo”.

Kopi ‘Chuseyo” menyajikan beragam minuman enak dengan resep Korea, baik kopi maupun non-kopi.



Untuk semua menu Kopi, Kopi “Chuseyo” hanya menggunakan espresso yang fresh brew tanpa proses penampungan, sehingga aman bagi lambung.

Untuk menikmati  aneka menu makanan dan minuman di Kopi “Chuseyo”, Kedai Kopi ini menawarkan harga berkisar Rp. 19.000 hingga Rp. 29.000 saja. Dengan harga yang ramah di kantong semua kalangan, Kopi “Chuseyo” langsung mendapatkan respon positif dari para penikmat kopi di Jakarta dan sekitarnya.



"Setidaknya lebih dari 100 cup kopi per hari terjual di Seluruh Kedai Kopi ini," ujar Daniel. Lanjutnya, "bila ada kegiatan dari para Komunitas pecinta Budaya Korea, jumlah ini bisa meningkat berkali-kali lipat."

Diungkapkan Daniel, sebelum pandemi Covid-19, sedikitnya ada 1x acara pertemuan setiap minggunya yang digelar oleh berbagai komunitas KPOP di semua cabang Kopi “Chuseyo”. Hal ini sangat membantu pihaknya membangun pasar sekaligus konsumen loyal Kopi “Chuseyo”. Terbukti ditengah pandemi Covid-19 strategi ini nyata hasilnya. Setiap cabang Kopi “Chuseyo” tetap buka dan tetap memberikan hasil yang menggembirakan sehingga mitra Kopi “Chuseyo” tidak merugi dan mampu bertahan serta tetap eksis”.


Kemitraan Kopi “Chuseyo”

Sejak awal dibuka pada Tahun 2019, Kopi “Chuseyo” langsung mendapatkan tempat di hati para KPoper sebagai tempat favorit mereka untuk berkumpul dan ngopi bareng.  Dihiasi dengan berbagai ornamen KPOP dan nuansa Korea menjadikan Kopi “Chuseyo” tempat yang sangat instagramable.  Dengan mengedepankan  konsep pemasaran yang menarik dan pangsa pasar yang solid yaitu  focus bidik market KPOP Community membuat Kopi “Chuseyo” terbukti tetap eksis dan mampu bertahan ditengah pandemi Covid-19.

Dalam mengembangkan bisnis dan untuk memperluas pasar, Kopi “Chuseyo”  menawarkan “Konsep Kemitraan” kepada investor  atau Mitra Kerja, karena konsep ini dinilai lebih mudah dan cepat dalam melakukan ekspansi bila dibandingkan dengan mengurus bisnis sendiri.

Paket Investasi yang ditawarkan oleh Kopi “Chuseyo” sebesar Rp. 140 Juta (Seratus Empat Puluh Juta Rupiah). Melalui investasi sebesar ini Mitra Kopi “Chuseyo” akan mendapatkan paket komplit  yaitu selain konsep bisnis dan brand, Mitra Kopi “Chuseyo” juga berhak akan peralatan berupa seluruh mesin Kopi, bahan baku, hingga proses perekrutan dan pelatihan barista.

Daniel Hermansyah, Co-Founder Kopi “Chuseyo” mengatakan bahwa “kini Kopi “Chuseyo”  telah memiliki 14 cabang yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia seperti beberapa wilayah di Jabodetabek, Semarang, Jogja, Surabaya dan lain-lain.

"Selanjutnya kami sedang mempersiapkan puluhan cabang baru yang sempat tertunda pembukaannya karena pengaruh pandemi Covid-19. Target kami, hingga akhir tahun ini kami bisa membuka lebih dari 40 Cabang Kopi “Chuseyo” di berbagai wilayah di kota-kota besar Indonesia,” ujar Daniel.

Sejak pertama kali ditawarkan kepada para Investor, Konsep Kemitraan Kopi “Chuseyo” banyak diminati, hal ini terbukti dengan adanya  ratusan  formulir kemitraan diajukan oleh para investor yang tertarik untuk bermitra guna membuka cabang Kopi “Chuseyo” di kotanya.

"Namun dengan berbagai persyaratan kemitraan, proses dan pertimbangan maka tidak semua calon mitra dapat membuka Cabang Kopi “Chuseyo” di lokasi yang telah mereka miliki karena selain pertimbangan lokasi, kami juga ingin menjaga eksklusifitas produk dan mencegah kanibalisme antar cabang," terang Daniel Hermansyah.

Kanibalisme dimaksud Daniel adalah kompetisi tidak sehat jika dinilai lokasinya terlalu berdekatan dengan cabang yang sudah ada.

"Hal ini kami lakukan supaya profit mitra bisa maksimal," jelas Daniel.

Setiap hari Kopi “Chuseyo” menawarkan beragam menu variasi kopi yang enak untuk dinikmati oleh para peminum kopi, seperti Dalgona Kopi special Kopi “Chuseyo” yang creamy dengan resep asli Korea, Kopi Oppa, minuman kopi yang menggunakan biji kopi Korean blend,  dan masih banyak lagi menu khas cita rasa Korea.



Buat kamu yang ngerasa penikmat Kopi tapi bosan dengan rasa yang itu-itu saja, kamu harus coba Kopi “Chuseyo”, racikannya yang pas cocok dinikmati kapan saja dan harganya juga sangat terjangkau. So tunggu apa lagi, Yuk ngopi bareng bersama Kopi “Chuseyo”. [gi]

Waroeng Steak Indonesia Sponsori Pebulutangkis Profesional Hendra/Ahsan



GEN-ID | Depok - Usia bukan penghalang bagi pebulutangkis Hendra Setiawan dan Muhammad Ahsan dalam mengukir prestasi di kancah internasional. Di usia keduanya yang tidak muda lagi mereka mampu mempertahankan prestasinya dibuktikan dengan menyabet tiga kali gelar juara dunia di BWF World Championship, yakni 2013, 2015 dan 2019.

Sukses mempertahankan prestasinya meskipun sudah berstatus pemain senior, Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan kembali dilirik sponsor baru, yakni Waroeng Steak & Shake.

Bukti Waroeng Steak & Shake berkomitmen memberi dukungan kepada pasangan Muhammad Ahsan & Hendra Setiawan, dilakukan dengan penandatanganan kontrak kerjasama antara Hendra/Ahsan dengan Waroeng Steak & Shake pada Senin, 10 Agustus 2020, di Restoran Waroeng Steak & Shake Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Pasangan Hendra & Ahsan kini tengah giat berlatih mempersiapkan diri ikut ajang internasional yang akan datang, walaupun waktunya belum bisa dipastikan karena situasi pandemi Covid-19.

“Ini merupakan bentuk komitmen dari Waroeng Steak & Shake untuk mendukung bulutangkis Indonesia melalui Hendra/Ahsan. Selama ini kami mengamati dan menilai Hendra/Ahsan bisa menjadi atlet panutan bagi atlet-atlet pebulutangkis,” kata Komisaris PT. Waroeng Steak Indonesia Yuga Adhyaksa.



Yuga menilai Hendra/Ahsan bisa adalah sosok pekerja keras dan memiliki keinginan yang kuat tetap aktif berprestasi sehingga bisa menjadi contoh untuk atlet-atlet muda Indonesi dan khususnya bagi para atlet PB Waroeng Badminton.

“Beliau ini adalah sosok yang mengispirasi. Diumur yang sudah tidak muda lagi beliau masih bisa menjadi juara dua dunia dan tidak kalah dengan yang muda,” ujar Yuga.

Kontrak dengan Ahsan/Hendra berdurasi setahun dan tidak menutup kemungkinan akan diperpanjang selama keduanya masih aktif.

“Kita pastinya merasa bangga sudah diberikan kepercayaan. Semoga dengan kerjasama ini semakin membuat kita termotivasi dan bisa juga memotivasi teman-teman junior untuk bisa berprestasi seperti kita," ucap Ahsan.

Sementara Hendra Setiawan juga berharap  agar  tetap bisa berprestasi dan bisa membantu waroeng makin eksis.

"Saya berharap  agar  tetap bisa berprestasi dan bisa membantu waroeng makin eksis  di Indonesia dan dunia," ucap Hendra.

Ustad  Yusuf Mansur yang kebagian berdo'a pada kesempatan acara penandatanganan sponsorship ini  mengatakan bahwa kerjasama ini adalah bentuk komitmen mendukung prestasi putra-putra bangsa dalam cabang olahraga. "Ini adalah bentuk kerjasama untuk mendukung prestasi para pebulutangkis profesional kita,  semoga kedepan Indonesia tetap unggul khususnya di olahraga bulutangkis dan melahirkan atlit-atlit berprestasi," ucapnya.


Tentang PT Waroeng Steak Indonesia
Didirikan  oleh Jody Brotosuseno dan istrinya Siti Hariyani di Jalan Cenderawasih No. 30 Yogyakarta, yang sebelumnya  mereka berdua telah aktif membantu usaha ayah Jody di restoran steak bernama Obonk Steak. Obonk Steak memiliki sasaran konsumen  kelas menengah ke atas. Dari sinilah, Aniek (nama panggilan Siti Haryani) dan Jody mempunyai ide untuk membuka tempat makan steak yang dapat menyentuh lapisan menengah ke bawah.

Mereka kemudian memilih nama Waroeng sebagai nama tempat yang mereka dirikan bukan restoran atau kafe yang nampak mewah. Hal ini dimaksudkan agar dapat menarik minat mahasiswa. Mereka juga tak segan memasang daftar harga di depan Waroeng agar calon pembeli dapat mengetahui harga menu mereka yang murah. Uniknya, Waroeng Steak & Shake menyediakan nasi untuk dimakan dengan steak (bukan hanya kentang, kacang panjang, wortel, atau jenis makanan lain yang biasa dimakan bersama steak). Outlet Waroeng Steak and Shake telah berkembang menjadi 80an outlet di seluruh Indonesia dari Medan sampai Makassar.


Red: Mahar Prastowo

Paskibraka Asal Jatim Terpilih Jadi Petugas Upacara Terbatas HUT RI Ke-75 di Istana

Reporter: Suwandi | Editor: Mahar Prastowo

Ketua Purna Paskibra Indonesia (PPI) Jawa Timur Sarjono, S.H yang juga Wakil Ketua Senkom Mitra Polri Jawa Timur


GEN-ID | Ngawi
-  Ada perubahan  fenomenal dalam penyelanggaraan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, di tahun 2020 ini.

Di tengah pandemi Covid-19, Upacara Detik-detik Proklamasi  nantinya hanya dilaksanakan di Istana Negara, sedangkan untuk Provinsi dan Kabupaten/Kota tidak dilaksanakan upacara peringatan detik-detik proklamasi, namun para Forkopimda Provinsi dan Kabupaten/Kota harus mengikuti upacara detik-detik proklamasi di Istana Negara secara virtual.

Ketua Purna Paskibra Indonesia (PPI) Jawa Timur Sarjono, S.H mengungkapkan ketentuan itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) B-492/M.Sesneg/Set/TU.00.04/07/2020.

Menurut Bang Jon,  untuk petugas Paskibraka ditetapkan tiga orang bertugas pagi, tiga orang bertugas sore dan dua cadangan.

Total ada delapan orang Paskibraka 2019 tingkat nasional yang akan kembali menjalani karantina untuk menjalani pendidikan dan pelatihan (Diklat) selama dua pekan. Yang ditugaskan mengibarkan Duplikat Bendera Sang Merah Putih pada saat HUT RI 75.

Yang membanggakan bagi Provinsi Jawa Timur dan PPI Jatim adalah dari 8 orang Paskibraka Nasional tahun 2019 yang dipanggil kembali untuk bertugas pada Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-75 adalah salah satunya Paskibraka utusan Jawa Timur.



Pelajar berprestasi itu adalah Dhea Lukita Andreana, siswi SMA Negeri 1 Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Dhea merupakan putri pasangan Salim Rajun dan Nursiah, warga Ngunut.

"Saya mendapat kabar dari Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia (PP-PPI) kemudian saya konfirmasi ke adik Dhea dan benar bahwa Dhea Lukita Andreana ini yang dipanggil kembali bertugas pada  upacara 17 Agustus di Istana Negara. Karena memang tahun 2020 ini tidak ada rekrutmen Paskibraka baru," ucap Bang Jon, Senin (03/08/2020) pagi.

Selain itu, pria yang keseharianya berdinas sebagai Pranata Acara di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Ngawi itu, merasa bangga dan bersyukur kader Paskibraka Jatim masih dipercaya Nasional untuk mengibarkan Bendera Pusaka di Istana Negara di tengah Pandemi.

"Alhamdulillah saya pribadi dan PPI Jatim, sangat bersyukur dan bangga karena Paskibraka Jatim terpilih kembali mengibarkan Bendera Pusaka di Istana dalam Upacara Kemerdekaan RI. Ini menjadi nilai yang luar biasa. Mereka merupakan generasi kebanggaan bangsa. Semoga terlaksana sukses berhasil barokah," ujar Bang Jon.

Lanjutnya, "hari ini saya tugaskan Wakil Ketua PPI Jatim menyertai Dispora Jatim monitoring ke adik Dhea bagaimana persiapan dan segala sesuatunya. Karena setelah proses pemberitahuan terpanggilnya kembali dari Kemenpora RI, Dhea untuk isolasi mandiri. Dan tanggal 4 Agustus 2020 sudah ke Jakarta untuk mengikuti Diklat."

"Kepada adik-adik yang ingin bergabung Paskibraka mulai sekarang persiapkan dirimu, kesehatanmu, tetap fokus dalam mengikuti pelajaran sekolahnya sembari berdoa agar Covid-19 ini segera berlalu dan tahun depan tunggu rekrutmen Paskibraka 2021. Mudah mudahan sudah bisa bertugas kembali normal dengan formasi lengkap 17-8-45," pesan Bang Sarjono yang juga sebagai Wakil Ketua Senkom Mitra Polri Provinsi Jawa Timur. [gi]

Baca Juga:
Dhea, Paskibraka Jatim Kembali Melenggang ke Istana Negara

Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (2)

Oleh: Noorca M. Massardi



Sebelum mengenalnya secara pribadi, tentu saya sudah tahu kiprah dan kehebatan Kang Ajip sebagai pengarang dan pegiat sastra, walau tidak banyak karyanya yang sempat saya baca hingga kini. Sebagai salah seorang penggagas dan pendiri Taman Ismail Marzuki (TIM), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Akademi Jakarta (AJ), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ – kini Institut Kesenian Jakarta – IKJ), Kang Ajip sudah menulis puluhan buku, baik puisi, cerita pendek, esei, novel dan pelbagai telaah serta sejarah sastra dan budaya. Termasuk sastra Sunda. Juga “mengayomi” para pelukis terkemuka Indonesia saat itu, dengan selalu membeli beberapa karya pelukis yang tidak terjual, atau yang memerlukan dana saat mereka berpameran di TIM, agar mereka bisa menyambung hidup dan berkarya selanjutnya.

Kebiasaan berbasa Sunda Kang Ajip dan Kang Atun (Ramadhan KH) di DKJ pada masa itu, ternyata sempat menimbulkan “masalah.” Apalagi, berdirinya PKJ-TIM pada 1968, itu awalnya memang dimotori banyak orang Sunda. Mulai dari Gubernur DKI Ali Sadikin, Ilen Surianegara, Ramadhan KH, dan Ajip Rosidi. Bahkan, mungkin tak banyak orang tahu, bahwa konsep Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) yang melahirkan TIM, DKJ, AJ, dan LPKJ, itu berasal dari tulisan Kang Ajip yang sebelumnya telah dimuat di Majalah Bulanan "Intisari."

Beberapa saat setelah Bang Ali dilantik Presiden Soekarno menjadi Gubernur DKI pada 1966, Bang Ali meminta konsep dan gagasan tentang apa yang bisa dia lakukan sebagai gubernur, untuk membantu kiprah para seniman budayawan Jakarta, yang saat itu selalu berkumpul di bilangan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Menyambut tawaran itu, karena belum tahu apa yang dimaksudkan dan diinginkan oleh Bang Ali, Kang Ajip pun menyerahkan tulisannya di majalah "Intisari" tersebut. Jadi, ketika Kang Ajip kemudian diminta datang untuk menghadap Bang Ali, bersama sejumlah tokoh Sunda dan seniman/budayawan lainnya, Bang Ali mengaku sangat terkesan pada tulisan Kang Ajip. Bang Ali yang menyetujui sepenuhnya gagasan dalam tulisan itu, lalu meminta Kang Ajip dan kawan-kawan, untuk menjabarkan tulisan itu menjadi proposal kongkret yang diserahkan beberapa waktu kemudian.

Setelah Pemda DKI menyetujui proposal itu, Bang Ali pun membangun PKJ TIM dengan seluruh ekosistemnya, di atas lahan sembilan hektare, yang sebelumnya dikenal sebagai Taman Raden Saleh dengan Planetarium-nya, milik Keluarga Pelukis Raden Saleh. PKJ TIM pun diresmikan pada 10 November 1968. Walau kondisi seluruh bangunan “sementara” itu tidak sesuai dengan keinginan para seniman-budayawan, baik secara arkitektur maupun fasilitas ruangan dan akustiknya, toh, wilayah bebas untuk berekspresi dan berkreasi secara gratis bagi para seniman-budayawan DKI dan Nasional, itu dapat terwujud. Dan kemudian mengilhami seluruh provinsi lain di Indonesia, untuk juga membangun pusat kesenian dan dewan kesenian serupa.

Selanjutnya...
Ajip: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (3)

Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (3)

Oleh: Noorca M. Massardi




PKJ TIM pun kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan dan sejarah seni budaya Indonesia modern, yang pertumbuhan dan prestasinya memuncak dan mendunia, pada periode 1970-1990. Situasi dan kondisi itu masih tetap eksis, kendati pamornya terus menurun, sampai tiba-tiba kompleks itu dihancurkan mulai akhir 2019 hingga awal 2020, pada masa Gubernur Anies Baswedan, dan ambyar hingga sekarang.

“Permintaan saya hanya satu: kalian harus mengurus sendiri PKJ TIM dengan sebaik-baiknya. Pemda DKI akan memberikan subsidi sepenuhnya. Tapi jangan pernah melibatkan saya, dan saya juga tidak akan pernah ikut campur dalam urusan kalian, karena saya tidak tahu apa-apa soal kesenian dan kebudayaan,” kata Bang Ali, sebagaimana selalu dikisahkan Kang Ajip kemudian.

Ihwal kebiasaan berbasa Sunda Kang Ajip yang sempat menimbulkan kegundahan itu ceritanya begini. Suatu hari, Kang Ajip mendengar gosip ihwal adanya kecurigaan dari seorang sastrawan-budayawan terkemuka non-Sunda, yang diam-diam berkirim surat kepada Akademi Jakarta. Dia “mengeluhkan” atau “melaporkan” bahwa, PKJ TIM-DKJ akan atau telah “di-sunda-kan” oleh Kang Ajip dkk.

“Tuduhan ‘sundanisasi’ PKJ TIM-DKJ itu sangat menyakitkan, terutama karena datangnya dari sastrawan budayawan terkemuka yang sangat dekat dengan saya dan yang selalu saya hormati (Kang Ajip menyebutkan sebuah nama). Tentu saja tuduhan atau kecurigaan itu saya bantah. Kalau toh banyak tokoh Sunda terlibat pada awal pemebentukan dan pendirian PKJ-TIM-DKJ, itu memang sudah kehendak Sejarah. Tidak ada niat dan maksud sama sekali dari kami orang Sunda, untuk menguasai apalagi “menyundakan” PKJ TIM-DKJ. Tuduhan itu sangat konyol dan naif, apalagi datangnya dari budayawan terkenal, hanya gara-gara kami selalu berbasa Sunda di lingkungan PKJ-TIM, setiap berkomunikasi dengan sesama orang Sunda,” kata Kang Ajip dalam suatu percakapan di rumahnya di bilangan Pejaten, di hadapan saya dan banyak teman, pada Minggu sore, 10 Februari 2020, yang ternyata merupakan perjumpaan terakhir saya dengan Kang Ajip.

Namun, ihwal kebenaran ada tidaknya tuduhan “sundanisasi” itu, biarlah budayawan dimaksud itu sendiri, yang mengklarifikasinya, bila yang bersangkutan sempat membaca tulisan ini.

Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (4)

Oleh: Noorca M. Massardi


Kedekatan saya dengan Kang Ajip, bahkan kemudian dengan keluarganya, pada belasan tahun belakangan ini, boleh disebut terjadi secara kebetulan. Pada akhir 2005, dalam salah satu liburan rutin ke Bali, saya sempat mampir ke Ubud. Di ARMA Galeri, milik Agung Rai, saya berkenalan dengan Rangin Sembada, yang biasa dipanggil Bada. Bada, yang ternyata merupakan putra kelima Kang Ajip, saat itu tengah menjadi pengelola acara di ARMA Galeri. Keberadaan Bada, yang sempat lama tinggal dan sekolah di Jepang, mengikuti sang ayah, Kang Ajip Rosidi (yang sejak 1981 diundang sebagai Guru Besar Tamu Bahasa Indonesia di Osaka) di desa Ubud itu, mungkin ada hubungannya dengan putri bungsu Kang Ajip, Titis Nitiswari, yang membuka warung makan “Ige Lanca” di Jalan Ubud Raya, di seberang Neka Galeri. Dan saya sempat beberapa kali makan di situ, sebelum tahu siapa pemiliknya.

Pada Februari-Maret 2006, begitu ada kesempatan dan rezeki, saya memutuskan untuk tinggal sementara di Ubud, karena ingin menyelesaikan bab akhir novel "September," yang proses penulisannya sempat terhenti hampir empat tahun. Sebelumnya, naskah itu sempat dimuat sebagai cerita bersambung di harian "Media Indonesia", dengan judul "Perjalanan Darius," namun dihentikan di tengah jalan, ketika kisahnya sudah memasuki pengungkapan ihwal siapa sesungguhnya yang berada di balik kudeta bulan September, sebelum memasuki bab terakhir.

Untuk bisa tinggal di Ubud, tentu saya harus menghubungi Bada, satu-satunya orang yang saya kenal di sana. Ternyata, Bada sudah berhenti dari ARMA Galeri, dan saat itu tengah mengelola warung makan “Biah Biah,” di Jalan Gautama, milik seorang warga Jepang, yang juga seorang perupa, Jun Sakata, asal Yokohama. Jun kabarnya sudah memutuskan untuk tinggal di Ubud hingga akhir hayatnya. Namun, saat itu Bada mengatakan akan berlibur ke Jepang untuk beberapa lama. Sehingga, villa yang disewanya di banjar Kutuh Kaja, Ubud, kosong. Saya pun diizinkan tinggal di lantai atas villa itu selama dua bulan, Februari-Maret, secara gratis, ditemani dua ekor anjing milik Bada, yang selalu mengawal saya selama di rumah.

Villa itu berdiri di tengah lahan luas dengan kontur tanah naik turun, dengan banyak pohon besar dan rindang, yang bila magrib tiba, suasananya sangat sepi, gelap, dan cukup menyeramkan. Apalagi saya hanya tinggal sendirian. Pada kesempatan itulah, saya kemudian berkenalan dengan putra keempat Kang Ajip, Nundang Rundagi, yang tengah bolak-balik urusan bisnis, Sumba-Lombok-Bali-Magelang-Jatiwangi-Jakarta.

Saya juga kemudian berkenalan dengan Ruslan Wiryadi, asal Cikarang, Bekasi, pemilik dan pendiri majalah gratis "Ubud Community," serta Dewa Putu Suardana, keponakan pemilik villa, yang setiap kali datang merawat dan membersihkan kompleks itu.

Selesai merampungkan "September" pada 11 Maret 2006, saya mengirimkan naskah itu ke Penerbit Tiga Serangkai, Solo. Alhamdulillah, buku itu bisa terbit sesuai waktu yang saya minta, dan launching-nya dilakukan pada awal Oktober 2006 di Jakarta Pusat, dengan pembahas Kochi Kaoru, akademisi dari Tokyo, teman Yudhistira, yang baru saya kenal.

Sejak itu, saya selalu berkomunikasi melalui telepon genggam, baik dengan Bada maupun dengan Nundang. Lalu, ketika saya mendapat kesempatan diajak kerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud, untuk menyiapkan dan menggelar acara tahunan "Anugrah Kebudayaan," saya pun berkenalan dengan arkeolog Titi Surti Nastiti, yang bekerja di salah satu Direktorat, dan ternyata adalah putri kedua Kang Ajip. Maka komunikasi dengan putra-putri Kang Ajip pun terjalin, kadang dalam basa Sunda, kadang dalam Bahasa Indonesia. Apalagi kemudian saya dan Rayni N. Massardi, makin sering bolak-balik Jakarta-Bali, hampir tiap dua bulan sekali. Bahkan ketika ke Lombok pun, kami sempat berjumpa dengan Nundang, yang kebetulan sedang mampir di sana.

Selanjutnya...
Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (5)

Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (5)

Oleh: Noorca M. Massardi


















Suatu ketika, kami kehilangan kontak dengan Bada. Ternyata, Bada sudah meninggalkan Ubud, dan bekerja di sebuah perusahaan Jepang di bilangan Cikarang, Bekasi, untuk beberapa tahun. Pada suatu saat berikutnya, ketika kami liburan ke Jogja, entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba Nundang menghubungi saya, dan mengajak saya ke Pabelan, untuk menemui ayahandanya, Kang Ajip Rosidi, yang saat itu kebetulan sedang di rumahnya di Pabelan, Mungkid, Magelang. Nundang pun menjemput saya ke Jogja. Setelah bertemu dan mengobrol beberapa waktu dengan Kang Ajip, Nundang memperkenalkan saya pada perupa Sony Santosa, asal Curup, Bengkulu.

Rupanya, Sony pernah tinggal di Ubud sejak 1989, sebelum kemudian pindah ke Rumah Seni Elo-Progo Art Gallery, miliknya, pada 2006. Di lahan luas yang terletak di pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo, tak jauh dari rumah Kang Ajip, pada setiap bulan purnama, Sony memang selalu menyelenggarakan pelbagai pentas seni, musik dan teater. Acara itu selalu diakhiri dengan pertunjukan “melukis langsung” yang dilakukan Sony, diiringi musik, sebagai performance art di dalam “teater sumur.” Ya, tempat semua peristiwa seni itu memang berlangsung di dalam lubang besar seperti sumur yang dalam, dengan penonton duduk di lingkaran atasnya, sambil melihat ke bawah, seperti menonton pertunjukan Tong Setan.

Beberapa tahun kemudian saya mendapat kabar bahwa Bada sudah tidak di Cikarang lagi. Bada sudah kembali ke Pabelan, mengurus rumah makan milik keluarga, dan sekaligus membuka warung Kopi Mpat, di lahan milik keluarganya yang sangat luas, dengan pemandangan sawah dan kolam ikan, serta panorama bayangan cungkup Candi Borobudur di kejauhan. Kami pun beberapa kali mampir ke tempat yang menyajikan pemandangan indah itu tertutama ketika matahari terbit dan saat matahari tenggelam. Ketika itulah, bila sedang beruntung, kami bisa bertemu dan mengobrol satu dua jam dengan Kang Ajip, di rumahnya yang berpekarangan luas, dengan perpustakaan berisi ribuan buku dan puluhan lukisan, di sebuah bangunan yang terpisah dengan rumah tinggalnya.

Lama tak berkomunikasi, pada suatu hari, Nundang menelepon saya, meminta tolong agar saya bersedia menjadi pembicara tamu sekaligus ”menemani” dua penyair pemenang lomba haiku nasional Jepang. Mereka akan membuat seminar tentang haiku di Universitas Darma Persada (Unsada) Bekasi, yang merupakan universitas kerjasama dengan Jepang, dan dibangun atas inisiatif Ir. Ganjar Kartasasmita, menteri semasa Orde Baru. Semula, karena saya tidak paham haiku, saya sempat menolak. Namun, Nundang setengah memaksa, sehingga saya pun bersedia dan hadir. Maka, pada Jumat, 16 Desember 2016 itu, alhamdulillah, untuk pertama kalinya, saya mengenal haiku dari dekat dan kemudian menekuni puisi klasik Jepang tiga baris dengan format 5-7-5 suku kata atau 17 sukukata itu.

Berkat pengenalan itu pula, saya kemudian menulis dua kumpulan puisi dalam format haiku bebas – yang saya sebut sendiri sebagai “hai aku” – karena saya tidak (ingin) selalu menggunakan kigo (penanda waktu) dan kireji (kata kunci akhir/kesimpulan/kejutan), yang merupakan prasyarat dalam haiku klasik. Kumpulan puisi pertama saya "Hai Aku Sent To You" yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU), diluncurkan pada Februari 2017. Kumpulan puisi kedua saya, "Hai Aku," yang diterbitkan Prenada Media, diluncurkan pada Agustus 2017. Dua kumpulan puisi “resmi” saya yang pertama dan kedua itu, bisa diterbitkan pada tahun yang sama, dan sempat diacarakan di Jakarta, Jogja, Bali dan Lombok.

Selanjutnya...
Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (6)

Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (6)

Oleh: Noorca M. Massardi






Pada awal 2017, perupa Jun Sakata, yang pernah bekerjasama dengan Bada di restoran “Biah-Biah,” Ubud, dan tinggal di Ubud setiap enam bulan sekali dalam setahun, meminta tolong agar kiranya bisa berpameran di TIM Jakarta. Untuk itu saya segera menghubungi dan meminta bantuan Merwan Jusuf, dosen dan kurator senirupa, lulusan sekolah senirupa tersohor di Paris, Ecole de Beaux-Arts, yang sudah kami kenal waktu di Paris selama kurun 1976-1981. Akhirnya, pameran dibuka pada Rabu, 5 Juli 2017, dengan Bada bertindak sebagai penerjemah Jun Sakata, ketika berhadapan dengan media dan pengunjung. Sementara Ruslan Wiryadi bertugas membawa seluruh karya rupa Jun Sakata dengan mobil pribadinya dari Ubud ke Jakarta.

Pada Maret 2018, saya liburan ke Jogja. Lalu, atas undangan Bada, untuk pertama kalinya saya dan Rayni, berkunjung ke Kopi Mpat, yang baru belum resmi dibuka. Namun kami tidak bertemu dengan Kang Ajip karena kebetulan sedang di Jakarta. Pada 9 September 2018, sambil berlibur ke Jogja, bersama Christyan AS, co-writer novel Rainbow Cake, yang ditulis berdua dengan Rayni N. Massardi, kami juga sowan ke Kang Ajip di Pabelan. Kami bertemu, mengobrol, dan berfotoria dengan Kang Ajip, sebelum berakhir dengan acara menikmati makan siang di bagian restoran Kopi Mpat. Salah satu menu di restoran itu adalah “Ayam Haiku,” pemberian nama dari saya, untuk menu ayam yang dimasak a la woku Manado. Kunjungan itu berakhir dengan menikmati kopi dan sunset di Kopi Mpat, beberapa puluh langkah dari bangunan utama restoran, sambal menyusuri tepi sawah dan kolam ikan.

Karena kang Ajip akan ke Jakarta, untuk acara pemberian "Hadiah Rancage" di TIM pada 26 September 2018, kami pun hadir dan bertemu di TIM, dengan pasangan pengantin baru baru Kang Ajip dan Nani Wijaya. Di situ pula kami bertemu dengan Nundang dan Titi Nastiti. Pada acara itu, sahabat kami sastrawan budayawan Seno Gumira Ajidarma, memberikan kata sambutan sebagai Rektor IKJ.

Pada 22 Februari 2019, saya dan Yudhistira diundang Tembi Rumah Budaya di Jogjakarta, untuk mengisi acara rutin “Sastra Bulan Purnama” di tempat itu. Ketika itu Yudhis meluncurkan novelnya "Penari dari Serdang." Saya meluncurkan draft novel "SIMVLACRUM," yang hingga hari ini masih menunggu koreksi akhir dari putri saya Cassandra Massardi, sebagai co-writer. Dan, istri saya Rayni N. Massardi meluncurkan novel psycho-thriller "Rainbow Cake," yang ditulis berdua dengan Christyan AS, sebagai surprise, sebelum peluncuran resmi novel yang akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU), pada akhir Mei 2019 – tiga bulan kemudian. Ketika itu Bada dan Nundang ikut hadir meramaikan. Karena itulah, keesokan harinya, saya, Rayni, Christyan, Yudhistira dan Siska istrinya, wajib datang ke Pabelan, sowan dengan Kang Ajip, mengobrol sekiar satu jam, sebelum kemudian menikmati sunset di Kopi Mpat, beberapa ratus meter dari rumah yang diberi nama “Jati Niskala” itu.

Sehubungan dengan terbitnya novel "Rainbow Cake" karya Rayni N. Massardi dan Christyan AS, yang diterbitkan GPU pada Mei 2019, kami membuat soft-launching di Toko Buku Gramedia Emerald Bintaro, dan kemudian di Lounge XXI, Plasa Indonesia pada Kamis 30 Mei 2019. Karena kami belum pernah launching di Bandung, saya pun meminta kemungkinan untuk membikin acara di Perpustakaan Ajip Rosidi, di Jalan Garut, Bandung. Nundang pun sepakat dan kemudian menjadwalkan acara untuk Sabtu, 27 Juli 2019 pagi. Setelah pelbagai persiapan dilakukan, kami berangkat naik travel, dan sahabat kami Annie Rai Samoen serta Rio Aribowo, ikut mendukung dengan naik kereta api dari Jakarta.

Pagi Jumat, 26 Juli 2019, kami sudah tiba di Bandung dan kemudian melihat lokasi acara. Siang hari itu Kang Ajip dan Nundang ternyata baru tiba dari Jogja dengan mobil. Setelah ngobrol beberapa waktu sambil melihat lokasi acara dan persiapan, kami kembali ke hotel dan kemudian ngopi-ngopi cantik dengan Annie Rai Samoen di Paris Van Java. Saat asyik menikmati kopi, sore hari itu, Nundang mendadak menelepon saya. Dia mengabarkan bahwa Kang Ajip ingin bertemu segera.

Dengan perasaan galau, setelah Nundang memberitahu apa yang akan dibahas, saya pergi naik taksi. Saya bertemu dengan Kang Ajip di ruang kerja merangkap kamar tidur, di sudut belakang gedung perpustakaan itu. Setelah berargumentasi dengan agak kaku, dan penuh perasaan aneh, kami pun mengakhiri pembicaraan singkat itu. Yang penting: acara besok pagi harus tetap berjalan, karena tak mungkin membatalkan dan memindahkan lokasi secara mendadak. Apalagi kami pun tidak punya cukup dana dan tidak ada sponsor sama sekali.

Dari Jalan Garut, malam itu saya janjian dengan Rayni dan Annie untuk pindah lokasi, dan ketemuan di Warunk Upnormal, di Jalan Braga. Saya tidak mau memberi tahu apa isi pembicaraan saya dengan Kang Ajip tadi. Setiba di Braga, saya ceritakan dialog yang terjadi antara saya dengan Kang Ajip. Usai mendengarkan, Rayni dan Annie hanya bisa tercengang dan menghela napas dalam-dalam.

Pagi hari, Sabtu 27 Juli 2019, alhamdulillah acara “Bincang bully” Novel "Rainbow Cake," berjalan lancar, tanpa banner, tanpa poster, dan tanpa ada penjualan buku di lokasi. Semua kawan baik kami yang di Bandung berkenan hadir. Antara lain Abay D. Subarna dan istrinya, Yusran Pare, Abdullah Mustapa dan istrinya pengarang Aam Amalia, Rinny Srihartini, Ipit Saefidier Dimyati, dan banyak lagi, serta kawan dari Subang, Kin Sanubary. Kang Ajip duduk paling depan, ikut mendengarkan sampai acara berakhir, kendati pendengarannya kurang baik, sehingga tidak terlalu paham apa detail yang dibincangkan di acara itu. Nundang ikut memberi kesaksian, juga Abay Subarna.

Selanjutnya...
Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (7)

Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (7)

Oleh: Noorca M. Massardi










 
Kang Ajip Rosidi memang luar biasa. Secara prestasi, tak ada seniman budayawan Indonesia yang menyamainya. Bahkan mungkin fenomenanya cukup langka di dunia. Seorang remaja otodidak yang terlalu lahap pada bacaan apa saja. Selain ihwal sastra dan kebudayaan dalam Bahasa Indonesia dan mungkin asing, juga mendalami ilmu pengetahuan, dan agama dunia, serta sastra dan kebudayaan Sunda.

Kemampuannya mencerna segala yang dibacanya, dan kefasihannya menuliskan semua inspirasi kreatif yang dilahirkan dari bacaannya, itu telah menjadikannya dewasa sebelum waktunya. Tak aneh bila dalam usia remaja belasan tahun, namanya sudah sejajar dengan para sastrawan dan budayawan Indonesia terkemuka pada masanya, ketika paham dan praxis modernisme tengah melanda belahan bumi, termasuk Indonesia, pada dekade 1950-an.

Tak pelak, Kang Ajip adalah sorang jenius pada zamannya, yang tak terbandingkan. Ia juga jenius pada zaman saya dan kawan-kawan berkirprah pada era 1970-an. Dan, dia tetap jenius pada zaman berikutnya. Karena tak ada, atau belum ada lagi, tokoh yang mampu menandinginya hingga pada generasi milenial ini. Belum ada lagi seorang otodidak, yang tak menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, yang mampu menjadi guru besar luar biasa, dan guru besar tamu di bidang sastra dan budaya, serta menerima begitu banyak jabatan dan penghargaan. Baik di dalam maupun di luar negeri. Sungguh langka orang yang mampu menulis begitu banyak buku, dalam pelbagai bidang secara sekaligus, tanpa pernah putus, sejak usia 12 tahun hingga 82 tahun.

Ketokohan Kang Ajip pun tak hanya tercatat di bidang sastra dan bahasa. Tak hanya dalam Bahasa Indonesia dan basa Sunda. Tapi juga dalam dunia penerbitan dan perbukuan. Dalam dunia kepustakaan dan senirupa. Juga dalam dunia sejarah, pendidikan dan pengajaran. Serta dalam sejarah pusat kesenian dan kebudayaan.

Perhatian dan keprihatinannya pada sastra daerah, tidak hanya sastra Sunda, diwujudkannya dalam bentuk pemberian penghargaan dan apresiasi rutin tahunan: "Hadiah Rancage." Perhatiannya kepada para sastrawan generasi muda, telah memungkinkan para penyair / penulis muda di bawah generasinya, untuk berkiprah dan mendapatkan “pengakuan” melalui program Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang menghelat acara “Penyair Muda di Depan Forum.” Sebuah forum yang membahas dan menerbitkan karya-karya para penyair generasi 1970-1980an. Termasuk saya, Yudhis, Adri Darmaji Woko, Handrawan Nadesul, Dami N. Toda, dan lain-lain.

Menerbitkan dan memimpin aneka majalah sastra dan kebudayaan sejak remaja hingga hari ini, Kang Ajip tidak hanya bisa berkomunikasi dengan segala kalangan, tapi juga memberikan perhatian langsung dan bukan hanya dengan kata-kata atau metafora. Karena sesungguhnyalah, Kang Ajip seorang yang sederhana, dan senang bercanda, sebagaimana umumnya orang Sunda. Ia juga tidak arogan sebagai tokoh terkemuka, dan tidak sok pamer dengan seluruh kepemilikan lahan dan rumahnya di pelbagai lokasi. “Saya tidak pernah mengejar jabatan dan kekayaan. Semua terserah kehendak Tuhan,” kata Kang Ajip selalu. Sesuatu yang terbuktikan sepanjang karir dan perjalanan usianya.

Meskipun demikian, Kang Ajip juga mempunyai kelebihan atau keunikan, atau mungkin juga kelemahan. Yakni, terlalu kaku dan keukeuh dalam sikap dan pendiriannya. Dalam banyak hal. Sesuatu yang selalu menjadi ciri utama orang-orang jenius yang otodidak tapi sukses. Termasuk merasa paling benar dan paling tahu. Namun, keteguhannya dalam memegang prinsip, itu tak menghalanginya untuk bergaul dengan segala kalangan. Untuk berbagi ilmu dan rezeki dengan yang membutuhkan. Kecuali dengan mereka yang tidak disukainya. Dan, yang ideologinya tidak sejalan dengannya.

Toh, kekurangan itu tak menghentikannya untuk selalu mendapatkan pelbagai gelar dan penghargaan. Baik dari dalam maupun dari luar negeri. Baik dari kalangan masyarakat maupun dari kalangan akademisi. Tak aneh bila Kang Ajip selalu terlibat dalam pelbagai kegiatan sastra budaya Indonesia, Sunda, dan daerah. Kendati mungkin secara kualitatif, banyak orang lebih menggolongkan ketokohannya dan karya-karyanya sebagai seorang “generalis” ketimbang “spesialis.” Sehingga karya puisi dan kepenyairannya, tampak tidak terlalu menonjol dibanding para “penyair spesialis” lainnya, dan karenanya tidak banyak yang menjadi epigon-nya. Begitu pula untuk karya-karya cerita pendek dan novelnya. Termasuk karya telaah dan sejarah sastra dan kebudayaan yang ditulisnya.

Meskipun demikian, sebagai seorang generalis, Kang Ajip telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi ekosistem sastra dan kebudayaan Indonesia dan daerah. Juga keperintisannya dalam pelbagai bidang, seperti dalam penerbitan, pengarsipan, kepustakaan, dan pemberian aneka penghargaan.

Ringkasnya, Kang Ajip adalah seorang yang murah hati dan sangat konsisten. Baik dalam karya, semangat, dan ideologinya. Termasuk dalam gaya rambut dan raut wajahnya.

“Noorca, saudara kan lebih muda dari saya, kenapa rambutnya sudah putih, sementara rambut saya masih hitam dan asli?” kata Kang Ajip, setiap kali saya bertemu dengannya.

Ya, rambutnya memang selalu lurus, hitam dan asli, dengan tampilan wajahnya yang selalu muda, dan tak pernah berubah kendati termakan usia. Bahkan, ketika pada Rabu, 29 Juli 2020, pukul 22.20 wib, Allah Swt memangilnya pulang, pada usia 82 tahun.

“Saya betul-betul tidak menyangka bahwa umur saya bisa sampai 80 tahun,” kata Kang Ajip kepada saya di rumahnya.

Almarhum Ajip Rosidi dimakamkan hari Kamis 30 Juli, pukul 11.00 wib di halaman depan rumahnya, di Perpustakaan Jati Niskala, Desa Pabelan 1, Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Akhir kata, harus saya akui, kekaguman saya kepada Kang Ajip, mungkin karena sejak awal saya merasa, riwayat pendidikan, karir, dan minatnya pada segala bacaan, sebagai seorang otodidak, tidaklah jauh berbeda dengan saya: otodidak. Yang membedakannya hanyalah: garis tangan. Selamat jalan, Kang Ajip. Hatur nuhun atas segala perhatiannya. Semoga amal ibadah Kang Ajip diterima Allah SWT. Aamin.


Bintaro, 01 Agustus 2020

Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (1)

Oleh: Noorca M. Massardi












Saya mengenal langsung Kang Ajip Rosidi ketika sastrawan / budayawan itu menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ 1972-1981) pada usianya yang ke 34. Pengarang asli Sunda kelahiran Jatiwangi, Senin, 31 Januari 1938, itu sudah sangat terkenal sejak 1950-an. Sebelum generasi saya lahir. Artinya, sejak Ajip sekolah dasar umur 12 tahun, dan melejit pada saat SMP, ketika usianya masih 16 tahun. Ketika itu, ia sudah diakui sebagai sastrawan nasional, karena karya-karya prosa dan puisinya, banyak dimuat di pelbagai media sastra dan kebudayaan, sejajar dengan karya-karya Angkatan Pujangga Baru, Angkatan Balai Pustaka, dan Angkatan 1945, yang usianya belasan bahkan puluhan tahun di atasnya.

Yang menarik, setiap kali bertemu dengan orang Jawa Barat, Kang Ajip selalu berbasa Sunda. Termasuk dengan saya dan kembaran saya Yudhistira ANM Massardi, yang kebetulan lahir di Subang, Jawa Barat. Ketika itu, kami masih luntang-lantung di Jakarta, antara Tanah Abang, Kebayoran Blok M (Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan), dan Cikini Raya (TIM). Saat itu, kami memang tengah merintis karir dan bercita-cita “muluk” untuk menjadi “pengarang terkenal.” Baik di bidang sastra (prosa puisi) maupun drama (penulisan lakon, aktor, dan sutradara). Maklum, saat itu kami masih berusia 18 tahun, dan lagi senang-senangnya berkhayal, dalam perut lapar, sambil memandang ke langit tinggi.

Kantor DKJ terletak di lantai dua sebuah gedung bertingkat, di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73. Di ruangan yang “berwibawa” itu selain berkenalan dengan Kang Ajip, kami juga berjumpa dan sesekali berseloroh atau “diejek” oleh Wahyu Sihombing (“Bapak Teater Remaja”), sastrawan Ramadhan KH yang menjabat Sekretaris DKJ, dan beberapa anggota DKJ terkenal lainnya. Ketika itu, tentu saya tak pernah membayangkan, bahwa suatu hari kelak, pada 1990-1993, saat berusia 36 tahun, saya bisa terpilih menjadi anggota DKJ, sekaligus Ketua Komite Teater, dan kemudian menjadi Ketua DKJ (lebih tua dua tahun dari Kang Ajip), meneruskan kiprah para tokoh ternama itu.

Dan, sekadar catatan, salah satu milestone saya sebagai Ketua DKJ adalah berhasil membawa rombongan seniman/budayawan melakukan rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi I DPR RI di Senayan, untuk menyampaikan petisi yang saya buat, yang ditandatangani semua sastrawan / budayawan terkemuka saat itu. Kami mengadukan perihal pelarangan pentas di TIM, bagi Bengkel Teater Rendra, Teater Koma N. Riantiarno, Swara Mahardhika Guruh Soekarnoputra, dan Orkes Melayu Soneta Rhoma Irama. Selanjutnya, kami mendatangi Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Laksamana Soedomo, ketika kekuasaan rezim militer Orde Baru Presiden Soeharto masih sangat kuat dan represif, pada 11 Desember 1990.

Hasilnya?

Soedomo mengizinkan mereka semua pentas kembali di TIM, walau pada pelaksanaannya masih tetap dipersulit oleh aparat keamanan di bawahnya. Dan, sepanjang sejarah, kedatangan para seniman ke DPR RI itu hanya dapat terulang kembali, pada 17 Februari 2020, ketika saya memimpin rombongan seniman, menyampaikan keluhan kepada Komisi X, dalam sebuah RDPU, ihwal penghancuran dan rencana komersialisasi kompleks PKJ-TIM oleh Pemda DKI, tanpa konsultasi dengan para seniman. Termasuk dengan Kang Ajip sebagai salah seorang penggagas dan pendirinya yang masih hidup.


Selanjutnya...
Ajip Rosidi: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (2)

PPS Ilmu Lingkungan UNP Persiapkan Calon Pemimpin Bervisi Lingkungan

Reporter: Riki Abdillah | Editor: Mahar Prastowo




GEN-ID
| Padang
- "Untuk menguasai ilmu lingkungan atau memperdalam ilmu lingkungan, para calon pimpinan dan para pimpinan dapat melakukannya di Program Studi Ilmu Lingkungan di Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang," ujar Dr. Indang Dewata, M.Si., Senin (27/07/2020).

Hal itu disampaikan Dr. Indang Dewata, M.Si., saat menjadi Keynote Speaker seminar daring dengan tema “Mitigasi dan Pengelolaan Lingkungan di Era New Normal”.

Dr. Indang Dewata merasa khawatir dengan krisis visi calon pemimpin mengenai lingkungan. untuk itu ia merasa perlunya mempersiapkan dan menjaring calon pemimpin yang berwawasan dan bervisi lingkungan.

Untuk itu, Indang Dewata mengungkapkan perlunya kearifan calon pimpinan baru untuk segera memasukan aspek lingkungan hidup ke dalam visi dan misi sebagai bukti bahwa calon pimpinan yang benar-benar pro rakyat karena dipilih oleh rakyat.

"Peningkatan angka kejadian bencana lingkungan, merupakan satu indikator bahwa Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) berada dalam level siaga," ungkap Dr. Indang Dewata, M.Si.

Sementara itu Ketua Program Studi S3 Ilmu Lingkungan PPS UNP Prof. Dr. Eri Barlian, M.S.  mengungkapkan  seminar daring ini juga ditujukan untuk mensosialisasikan Program Studi S3 Ilmu Lingkungan yang segera divisitasi secara daring dan berharap dengan bantuan berbagai pihak dapat terakreditasi unggul.

“Terima kasih atas semua pihak, para dosen, mahasiswa dan segenap staf Program Studi S3 Ilmu Lingkungan PPS UNP yang telah bekerja keras dan bersama-sama untuk memenuhi persyaratan proses akreditasi," ujar Prof. Eri Barlian.

Rektor Universitas Negeri Padang Prof. Ganefri, Ph.D yang berkenan membuka seminar ini, menyampaikan apresiasi serta mengucapkan selamat kepada Program Studi Ilmu Lingkungan dan Alumni Ilmu Lingkungan PPS Universitas Negeri Padang yang telah melakukan berbagai terobosan dan inovasi untuk menunjang Tri Darma perguruan tinggi.

Direktur PPS Universitas Negeri Padang Prof. Yenni Rozimela, M.Ed, Ph.D, juga mengapresiasi kepada para Alumni S3 Ilmu Lingkungan UNP yang dibimbing Prof. Eri Barlian dan Dr. Indang Dewata, telah berhasil melaksanakan seminar secara daring di masa pandemi  covid-19. "Semoga apa yang disampaikan disini dapat bermanfaat untuk kita semua dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat," ujar Prof. Yenni Rozimela yang menutup acara seminar.
Dr. Linda Handayuni, S.K.M., M.Si selaku panitia dan moderator melaporkan seminar daring ini mendapat animo  cukup besar dari berbagai kalangan. "Tercatat sekitar 400 orang yang mendaftar namun yang berhasil masuk ke link dan mengikuti seminar yang dilakukan secara daring ini hanya sekitar 100-an orang, selain dari Padang, ada yang dari Ambon, dari Malaysia dan berbagai daerah lainnya," ujar Dr. Linda Handayuni.

Seminar yang dipandu oleh Dr. Linda Handayuni, S.K.M., M.Si selaku moderator ini juga menampilkan beberapa narasumber lain yaitu Dr. Dasrizal,M.P dengan judul paparan “Pengelolaan Hutan Pada Era New Normal”, Dr. Ir. Haryani, M.T dengan judul “Lingkungan Pesisir dan Tata Ruang Era New Normal serta Dr. Mulya Gusman, S.T., M.T dengan judul paparan “Zonasi Air Tanah Dangkal Berdasarkan Electrical Conductivity di Kawasan Pesisir Kota Padang”. Keempatnya merupakan Alumni S3 Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana UNP. [gi]

Mubaligh LDII Terpilih Secara Demokratis Sebagai Ketua RW 08 Kayuringin Jaya Kota Bekasi

Reporter: Agus Wiebowo  | Editor: Mahar Prastowo

Lurah Ricky Suhendar bersama RW terpilih, panlih, dan segenap jajaran tiga pilar Kelurahan Kayuringin Jaya


GEN-ID | Kota Bekasi - Pelaksanaan pemilihan Ketua  RW 08 Perumnas 2 Kelurahan Kayuringin Jaya Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat berlangsung demokratis. Perhelatan yang diikuti tiga calon, yakni Hery Cahya Nugraha,  Yose Rizal S.T, dan guru ngaji H.M Royan Widodo, dilaksanakan di Kantor Sekretariat Bersama RW 08 pada Minggu (26/07/2020) malam.

Total suara pemilih yang diperebutkan oleh ketiga kandidat adalah sebanyak  889 suara. Ketua RW yang masih menjabat, Endang Suhendar tidak turut dalam bursa pemilihan.

Hadir menyaksikan perhelatan pesta demokrasi di tingkat RW ini ialah Lurah Kayuringin Jaya Ricky Suhendar, Sekretaris Kelurahan/Sekel Agus H. Ma'mun, Kasie Pemerintahan Alvian, Babinsa Sertu Darjo, serta aparat kepolisian dari polres. Demikian halnya dengan Pokdarkamtibas, Ketua PKK RW, Ketua RW, Para Ketua RT,  Tokoh Masyarakat, Sesepuh, Karang Taruna dan Panitia Pemilihan Ketua RW.
Ketua RW 08 Endang Suhendar memberikan sambutan. Tampak ketiga kandidat Ketua RW.

Sebelum proses penghitungan suara, Ketua RW 08 Endang Iskandar memberikan sambutan. Ia mengucapkan terimakasih atas berlangsungnya pemilihan Ketua RW ini. "Saya ucapkan terimakasih dan saya banggakan pada 3 calon, mereka adalah orang-orang terbaik,  berani maju menjadi pemimpin dan pengendali lingkungan ini, apapun hasilnya nanti tentunya yang menang jangan merasa bangga,  yang kalah jangan rendah diri. Kalian harus saling membantu dan  saling mendukung," ucap Endang.

Lanjutnya, "kepada beliau nanti yang jadi ketua RW, lanjutkan program pembangunan RW-RW sebelumnya. Kepada Para ketua RT yang baru,  bersinergilah dengan RW yang baru,  jangan utamakan ego tapi kedepankan musyawarah," pesan Endang.

Tak lupa Endang juga menyampaikan  ucapan selamat bekerja para RT dengan RW yang baru. "Insha Allah kami pengurus RW lama akan tetap menjunjung tinggi kebijakan daripada RW yang akan datang," tutup Endang.



Sementara itu, Lurah Ricky Suhendar menyampaikan bahwa ketiga kandidat  adalah putra-putra terbaik,  "siapapun yang jadi, harus mampu bekerjasama dengan pemerintah Kota Bekasi khususnya di Kelurahan Kayuringin Jaya, ayuk sama-sama kita membangun wilayah kita sendiri," ajak Ricky.

Dari hasil penghitungan suara oleh Panitia Pemilihan (Panlih), setelah menganulir 12 surat suara rusak atau tidak sah, akhirnya diperoleh hasil  H.M Royan Widodo terpilih sebagai Ketua RW dengan  perolehan 429 suara, mengungguli kedua calon lainnya yakni  Hery Cahaya Nugraha dan  Yose Rizal.



Sebagai Ketua RW terpilih, H.M Royan Widodo, menyampaikan ucapan syukur dan terimakasih atas kepercayaan yang diamanatkan kepadanya.

"Kami bersyukur pada Allah SWT. Kami juga berterimakasih pada seluruh warga atas kepercayaannya. Untuk program yang ada akan kami lanjutkan,  baik keamanan wilayah,  pembangunan wilayah,  kegiatan PKK,  Karang Taruna, karena terutama yang muda untuk lebih bisa mengambil porsinya, lebih banyak untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dan senior-seniornya di RW 08. Agar kita semua bisa sehat, baik, rukun, kompak, saling bekerjasama dalam kebhinekaan," ujar H.M Royan Widodo.

Perihal  keselarasan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, H.M Royan berharap dapat tercapai dan yang sudah baik ditingkatkan lagi lebih baik. "yang muda bisa menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda," ujarnya.

Lanutnya, "dan secara umum kami akan melanjutkan program RW yang lama.  Sebagai manusia biasa, tentu butuh masukan dari orang lain, apabila salah  diingatkan. Kami harapkan musyawarah warga setiap RT berjalan baik agar lebih terjaga kerukunan, tumbuh keakraban dan saling menghargai, sehingga terwujud kerukunan yang lebih baik lagi sehingga program-program juga dapat berjalan dengan baik," pungkas H.M Royan Widodo yang juga guru ngaji atau mubaligh di majelis taklim Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) itu. [gi]

Pusat Jajanan Tradisional Pasar Jatian Kembali Dibuka

Reporter: Suwandi | Editor: Mahar Prastowo







GEN-ID | Banyuwangi - Arahan pemerintah Kabupaten Banyuwangi soal konsep kebiasaan anyar atau tatanan kehidupan era baru, new normal sudah mulai diterapkan pada sektor ekonomi kreatif.

Pasar Jatian Desa Wringinrejo Kecamatan Gambiran pun telah dibuka dan  siap menerima pengunjung.

Destinasi wisata yang berlokasi di Dusun Toyamas, kembali buka dengan menerapkan konsep new normal. Para panitia dan para pedagang sudah diwanti-wanti tentang konsep penerapan SOP terbaru.

Sekretaris Desa Wringinrejo Mohamad Sirojudin mengatakan  sejak pandemi covid-19 kegiatan pasar jatian tutup total, seiring sejumlah simulasi untuk membuka destinasi pariwisata di era 'new normal' oleh pemkab Banyuwangi, hari ini, Minggu (26/7/2020) pagi Pasar Jatian kembali dibuka.

"Pagi ini pasar jatian mulai dibuka, namun dengan  penerapan protokol kesehatan yang ketat dan layanan terbatas" terang Sekdes.

Bagi yang rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional, sempatkan mampir ke Pasar Jatian Dusun Toyamas di akhir pekan. Dijamin betah dan kerasan, tempat yang teduh dan tak ketinggalan nostalgia rasa aneka kuliner.

Sirojudin juga menjabarkan beberapa aturan yang diterapkan di Pasar Jatian. Langkah awal yang dilakukan sebagai pencegahan Covid-19 adalah setiap pengunjung yang datang akan disambut oleh pegawai diarahkan untuk cuci tangan, pakai masker dan diperiksa suhu tubuhnya.

Dengan konsep ini diharapkan Pasar Jatian, bisa terus berjalan sambil terus meminimalisir penyebaran Virus Corona. Selain dibuka untuk aneka masakan, jajanan tradisional juga menghadirkan penari gandrung dan penyanyi sebagai penyemarak dan hiburan.

Untuk menjangkau lokasinya tidak terlalu sulit. Tapi ingat jangan sampai salah waktu menyambanginya, sebab Pasar Jatian hanya buka setiap hari Minggu, dari pukul 07.00 pagi hingga selesai. Sesuai namanya, pasar ini terletak dipinggir jalan Wringinrejo - Tamanagung di rerimbunan kebun jati. Penggagasnya adalah kaum muda dan masyarakat dusun Toyamas Wringinrejo.

Pasar ini tampak seperti yang beberapa hari lalu diresmikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Kampung Mandar. Di area pintu masuk disediakan Kendi besar untuk cuci tangan, para pemilik warung melayani pengunjung dengan pelindung diri. Semua bilik bambu tertutup dengan plastik penutup yang transparan.

Beragam hiasan bunga warna-warni, panggung kayu mini, dan bangku kayu, begitu semarak menghiasi kebun jati yang rindang itu. Suasana yang sejuk tentu menjadi sangat menarik untuk dijadikan story line pengunjung. [L]

Kapolda Riau Gelar Wisata Kuliner Bakar Jagung Rayakan Panen Program Jaga Kampung

Reporter: A. Rozak | Editor: Mahar Prastowo





















GEN-ID | Pekanbaru - Gerakan Jaga Kampung untuk ketahanan pangan yang diinisiasi Polda Riau mulai menampakkan hasil. Kapolda Riau Irjen Agung Setia Imam Effendi S.H, S.I.K, M.S.I menggelar acara wisata kuliner bakar jagung dari hasil panen  program Jaga Kampung Polda Riau tersebut, bertempat di purna MTQ Pekanbaru pada Sabtu malam (25/07/2020).

Acara yang berlangsung dalam suasana santai tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Riau H. Syamsuar, Wakil Gubernur Riau, Kapolda Riau, Wakajati Riau, Danrem 031/WB, Danlanud Roesmin Nurjadin, Danlanal Dumai serta pejabat utama lainnya. Forkopimda Kota Pekanbaru juga turut menghadiri bakar-bakar jagung bersama.

Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi mengatakan untuk pertemuan malam ini semuanya menggerakkan dan menguatkan ekonomi Provinsi Riau melalui usaha-usaha kecil seperti jagung bakar yang memang kita gandeng dalam program jaga kampung melalui upaya ketahan pangan ini.

"Kami bersama masyarakat Riau ingin berpartisipasi dan berkontribusi dalam penguatan ekonomi ini. Gerakan Jaga Kampung ini bertujuan untuk menguatkan kampung terkait kecukupan kebutuhan pangan serta masyarakat sehat sejahtera. Gerakan ini juga di mobilisasi ditingkat kabupaten/kota, kecamatan serta desa," terang Kapolda.

Kapolda berkisah,  "kemaren saya bersama pak gubernur, panen jagung di Pelalawan diiringi dengan hujan. Pertemuan malam ini adalah apa yg kemudian menjadi perhatian kita bersama tujuan memperkuat perekomian kita. Kita ingin berpartisipasi dan bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat atas dampak pandemi covid-19."

Baca juga
Kapolda Riau Panen Raya Jagung Bersama Pedagang

"Gerakan Jaga Kampung  bukan hanya sekedar konsep tapi realita yg sudah kita jalankan,” tegas Agung.

Irjen Agung mengisahkan, 80 hari yang lalu pihaknya dan pemerintah menanam bibit jagung dan benerapa komoditas lainnya di Pelalawan dan hari kemarin telah kita panen dan langsung bisa diperoleh hasilnya.

"Jagung ini untuk kita konsumsi dengan harapan petani dan pedagang ketemu langsung untuk meningkatkan ketahanan para petani kita. Artinya mereka benar-benar meningkatkan penguatannya. Dan kami harapkan kita semua terus melakukan ini untuk kontribusi kepada negara," jelasnya.

Jendral brilian pencetus aplikasi dashboard lancang kuning tersebut berharap melalui langkah ini, pedagang dan masyarakat berkontribusi dari hal-hal yang kecil dan akan didukung agar bisa berkembang dan membesar.

"Saya yakin bahwa di Riau sektor pertanian akan menjadi lebih kuat. Kita harapkan bersama pemulihan ekonomi bisa kita wujudkan agar bisa menjadi negara yang kuat," tukasnya.




Sementara itu Gubernur Riau Syamsuar dalam sambutannya menyebutkan pelaksanaan program yang digelar Polda Riau ini menunjukkan hasil nyata, yang bisa memotivasi masyarakat, petani serta pedagang di Riau.

"Kita harus berusaha maksimal dalam rangka meningkatkan belanja daerah tentunya untuk upaya pemulihan ekonomi kita. Pihak Pemda, Swasta serta masyarakat agar memanfaatkan momen baik ini untuk meningkatkan ekonomi di masa yang akan datang," kata mantan Bupati Siak ini.

Melalui kesempatan ini, lanjut Syamsuar, tentunya akan berpengaruh terhadap usaha-usaha kecil yang ada di Riau ini.

"Kami menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada pak Kapolda Riau karena telah menambah semangat usah-usahakecil dan mikro serta petani. Sebenarnya ini upaya kita dalam meyakinkan masyarakat ditengah pandemi Covid-19 ekonomi harus kita bangkitkan," tutup Gubernur Riau Syamsuar. [L]

Bantu Pasien Miskin Penderita Kanker Rahim, Kabaharkam: Kita Semua Lahir dari Rahim Ibu

"Kita semua lahir dari rahim seorang ibu, kita menumpang 9 bulan 10 hari di rahim ibu sebelum menjalani kehidupan di dunia." (Kabaharkam Polri, Komjen Pol. Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H)

Reporter: Abdul Rozak | Editor: Mahar Prastowo




GEN-ID
| Medan
- Kabar seorang wanita penderita kanker rahim stadium 3C bernama Sri Widiarti (47) yang mengalami kesulitan berobat dan juga mengalami kesulitan ekonomi sampai ke Kabaharkam Polri Komjen Pol. Agus Andrianto. Melalui stafnya Abink, Kabaharkam memberikan sejumlah bantuan berupa sembako, tali asih dan pengobatan gratis.

"Saya hanya menjalankan perintah bapak, untuk memberi bantuan ke Ibu Sri", ujar Abink saat ditemui di kediaman anak Sri Widiarti Gang Abadi, Pasar 1 Rel, Kecamatan Medan Marelan Kotamadya Medan.

Sri Widiarti (47) warga Dusun III Desa Selemak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, sehari-hari hanya bisa berbaring tak berdaya melawan penyakit kanker rahim stadium 3C yang menggerogoti rahimnya.

Janda yang ditinggal mati suami sejak tahun 1996 ini hanya bisa pasrah tidak bisa melanjutkan pengobatan karena terkendala biaya dan BPJS yang sudah lama tidak terbayar.

Menerima bantuan dari Kabaharkam Polri, Sri Widiarti tak dapat menahan tangis harunya.

"Alhamdulillah terima kasih pak, saya sudah dibantu, semoga bapak dan keluarga senantiasa mendapat keberkahan, terima kasih Polri", ujar Sri Widiarti sambil terisak.

Tangis Ibu Sri Widiarti semakin pecah saat tau dirinya akan menjalani pengobatan di Rumah Sakit Bhayangkara TK II Medan.

"Ya Allah pak, terima kasih, bagaimana kami harus membalasnya pak", tutur Sri Widiarti.

Sementara itu Kapolres Belawan AKBP DR. H.R. Dayan, S.H, M.H melalui Bhabinkamtibmas Polsek Medan Labuhan Aiptu Hendro Wahyudi mengatakan bahwa Ibu Sri akan dibantu pengurusan BPJS mandirinya yang sudah lama tak terbayar menjadi BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran).

"Kami akan usahakan BPJS mandiri yang saat ini dimiliki oleh ibu Sri bisa diubah menjadi BPJS PBI", ujar Aiptu Hendro yang ikut mendampingi penyaluran bantuan.

Di tempat terpisah Kabaharkam Polri Komjen Pol. Agus Andrianto  mengatakan bahwa dirinya mengaku prihatin atas apa yang menimpa Ibu Sri Widiarti.

Komjen Agus juga menyampaikan harapannya agar Ibu Sri diberi kesembuhan oleh Allah SWT.

"Semoga Allah SWT mengangkat penyakit ibu Sri", tutur Komjen Agus.

Lebih lanjut Komjen Agus yang pernah menjadi Wakapolda Sumut (2017), dan Kapolda Sumut (2018) mengatakan bahwa kehadiran Polri membantu masyarakat juga bagian dari kehadiran negara dalam membantu masyarakat, setiap kebaikan Insya Allah akan dibalas juga dengan kebaikan oleh Yang Maha Kuasa.

"Teruslah berbuat baik, karena kita tidak pernah tau kebaikan mana yang akan kembali kepada kita", tutur Komjen. Pol. Agus Andrianto.
[gi]
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. GEN-ID ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by daguku