Kontak Redaksi https://telegram.me/Gen_ID atau WA 085773537734
portal ini dikembangkan guna pemberdayaan komunitas dan penguatan kelembagaan, pengiriman artikel, foto, video, slip donasi pengembangan web dapat melalui WA 08157-7353-7734 atau TELEGRAM https://t.me/Gen_ID
Home » , » Dewi Motik, Bunda Entrepreneur Indonesia

Dewi Motik, Bunda Entrepreneur Indonesia

Written By Redaksi on 23 Februari, 2021 | 19.42


Dr. Hj. Cri Dewi Motik, M.Si, Bunda Entrepreneur Indonesia dalam sebuah cover majalah.


GEN-ID | INSPIRASI
- Tahun 1998 saya baru mulai berwirausaha di bidang penerbitan, serta membuka galeri kriya dan lukisan di Kemang Timur, Jakarta Selatan dengan nama Nilam Gallery. 

Bidang penerbitan saya pilih dalam misi menumbuhkan minat baca, dengan merekrut siswa SMA dan mahasiswa sebagai ‘proofreader’ lepas dengan honor menarik sebagai tambahan uang saku.

Wirausaha adalah suatu bidang yang saya sangat awam, mengingat sejak menikah saya hanya aktif sebagai pekerja sosial di luar tugas utama sebagai ibu rumah tangga.

Tentu saya perlu belajar banyak tentang dinamika kewirausahaan pada pakar-pakarnya. Learning by doing. Satu-satunya yang terlintas di benak saya ketika itu, untuk ‘berguru’ kewirausahaan adalah ibu Dewi Motik dan IWAPI-nya.

Saya sangat akrab dengan nama IWAPI, karena kantor pusatnya berada di jalan Kali Pasir Cikini, Jakarta Pusat, yang sering saya lewati, sebab rumah orangtua saya berada di kawasan Kwitang berbatasan dengan Kali Pasir.

Saya lalu mendaftar sebagai anggota IWAPI. Kemudian ditugaskan sebagai Ketua Bidang Promosi UKM–IWAPI DKI 1998–2002 dengan Ketua IWAPI DKI ibu Hj. Melani Suharli, yang kini bertugas di Komisi VI DPR RI.

Karena dalam proses berguru wirausaha, saya aktif mengikuti rapat-rapat dan semua kegiatan IWAPI hingga rakernas di Yogyakarta.

Berbagai kegiatan Bestari CDF pun saya integrasikan dengan IWAPI DKI, antara lain Pameran Topeng Malangan & Topeng Cirebonan di Hotel Kartika Chandra Jakarta tahun 2001. Misi program ini adalah pelestarian budaya, melestarikan kesenian tradisional dan kerajinan topeng yang nyaris punah.

Juga di Pameran Lukisan Guru & Murid SMU di Club House Pangkalan Jati Golf dalam rangka Hadiknas & Hari Pendidikan Angkatan Laut tahun 2000. Misi program ini untuk menyalurkan energi kreatif siswa agar tidak mencoret-coret fasilitas umum. Ketika itu juga sedang marak tawuran pelajar yang brutal di DKI Jakarta.




Bestari CDF juga ikut berperan aktif dalam perayaan Hari Anak Nasional (HAN) dari tahun ke tahun. Pada HAN tahun 2009, salah satu rangkaian kegiatannya adalah bedah buku karya anak-anak terbitan Balai Pustaka. Buku karya Nilam menjadi salah satu buku yang dibedah. Panitia sudah merancang  moderator dan 2 narasumber, semua pria.

Ibu-ibu di Divisi Pendidikan & Seni Budaya protes, kenapa tidak ada sosok perempuan, karena ibu punya peran besar dalam proses tumbuh kembang anak. Saya pun mengusulkan ‘tokoh ibu’ dari IWAPI. Rekan-rekan di Bestari setuju. Panita Bedah Buku pun setuju, namun mengatakan tidak ada anggaran honorarium untuk tambahan narasumber.

Saya lalu menunjukkan 3 foto ibu IWAPI pada Nilam yang sudah dikenalnya lantaran sering saya ajak dalam kegiatan IWAPI. Tiga foto itu adalah: Ibu Dewi Motik, Ibu Melani Suharli, dan ibu Gloria Imam Supardi.

Saya bertanya pada Nilam, mau didampingi ibu yang mana di forum? Spontan Nilam menjawab “Aku mau sama bunda Dewi Motik.”

Bestari pun segera menulis surat kepada ibu Dewi Motik untuk mohon kesediaan menjadi narsum. Secara pribadi saya menghubungi beliau via telepon, menyampaikan misi kegiatan tersebut. Ibu Dewi langsung mengatakan bersedia, bahkan sebelum surat dari panitia sampai kepada beliau.

Keteladanan ibu Dewi Motik yang menginspirasi banyak orang, khususnya rekan-rekan di Bestari CDF dan jaringan kerjanya, adalah “ketajaman membaca dengan mata hati” pada semua program-program idealis, dan mendukung sepenuh hati. Dengan kata lain, ikhlas membantu tanpa pamrih.




Kerendahan hati, sikap humble seorang Dewi Motik, bukan sekadar pencitraan semata, yang membuat ‘sungkan’ ibu-ibu di Bestari yang ketika itu menjemput ibu Dewi untuk Narasumber Bedah Buku HAN 2009 di kediamannya di jalan Surabaya, Menteng Jakarta Pusat, dengan mobil kijang sederhana, kendaraan operasional Div. Pendidikan Bestari CDF.

Saya terakhir ketemu ibu Dewi Motik di kantor Kowani ketika beliau menjabat Ketua Kowani 2009–2014. Kami berdiskusi merencanakan bedah buku beliau. Sayang rencana bedah buku tidak terlaksana lantaran suami saya jatuh sakit hingga meninggal dunia. Sejak itu saya kehilangan jejak beliau karena hp saya rusak, ketika ganti baru banyak nomor kontak sahabat yang hilang.

Entah memang dalam putaran ‘orbit’, saya menemukan kembali guru saya di grup Kartini LKN (Lembaga Kajian Nawacita) berkat budi baik seorang ‘Kartono’, bapak Ir. Samsul Hadi – Ketua Umum
LKN yang menyertakan saya di grup Kartini LKN.

Indonesia patut bersyukur memiliki seorang Dewi Motik, Ibu Entrepreneur bangsa, yang patut diteladani. Terima kasih bu Dewi, telah menjadi teladan dan ibu ideologis buat anak saya Nilam Zubir, yang sejak kecil mengidolakan ibu dan menjadikan ibu sebagai salah satu panutan.

Kini, Nilam tumbuh dewasa dengan mindset entrepreneur yang kuat, dan akan berdarmabakti sesuai profesinya di bidang hukum, dengan akan mendirikan LBH UKM. Semoga semua niat baik mendapat berkah dan ridho Allah SWT. Amin YRA.

Rahayu ...


Nina Triastuti
Bestari CDF (Community Development Foundation)
Cinere, 20 Februari 2021

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. GEN-ID ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by daguku