Dalam pemaparannya, Abid menegaskan bahwa persepsi negatif tentang Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kerap muncul bukan karena fakta, melainkan akibat minimnya informasi yang benar di masyarakat.
“Banyak salah faham tentang LDII berasal dari ketidaktahuan,” ujarnya.
Abid mengungkapkan bahwa buku tersebut membuka pemahaman baru baginya mengenai praktik kebajikan warga LDII, termasuk penggunaan istilah amal saleh dalam percakapan sehari-hari.
“Dalam buku ini saya baru tahu bahwa ‘amal soleh’ menjadi istilah ketika meminta tolong. Misalnya: ‘Amal soleh, tambahkan kopi,’” jelasnya.
Tak hanya itu, Abid menilai LDII masih memegang teguh nilai-nilai fundamental yang mulai memudar di sejumlah organisasi keumatan.
“Ruh yang hilang dari gerakan Islam saat ini, itu ada di LDII,” katanya.
Sebagai Ketua Askot PSSI kota Manado Abid juga menceritakan pengalamannya menyaksikan pembinaan generasi muda LDII, khususnya dalam kegiatan olahraga sepak bola.
“Saya lihat sendiri anak-anak muda LDII bermain sepak bola dengan disiplin ibadah. Waktunya salat, mereka berhenti untuk salat. Saya kagum. Itu di LDII ada FORSGI,” tuturnya.
Di akhir penyampaiannya, Abid mengajak seluruh elemen umat untuk membuka diri, berdialog, dan saling memahami guna memperkuat kerukunan.
“Perbedaan tidak menuntut keseragaman, tetapi kedewasaan untuk saling memahami,” tegasnya.
Kegiatan bedah buku ini dinilai memberikan ruang penting untuk memahami LDII secara ilmiah, objektif, dan sesuai dengan realitas praktik nilai-nilai kebajikan yang dijalankan warganya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar