GENERASI-ID 🇮🇩| Jakarta Timur - SMA Negeri 9 Jakarta menggelar Seminar Parenting selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat (26-28 November 2025), sebagai ikhtiar memperkuat peran orang tua dan wali murid dalam menghadapi beragam persoalan remaja masa kini. Dengan tema “Peran Orang Tua dalam Mendampingi Masalah Remaja: Bullying, Kekerasan Seksual, dan Judi Online,” kegiatan ini menjadi ruang dialog yang hangat dan penuh pembelajaran antara pihak sekolah, narasumber, dan para orang tua.
Meningkatkan Kepekaan Orang Tua dalam Melindungi Remaja
Sebagai narasumber, Farid Muchlis, SE menyampaikan bahwa keluarga memiliki peran paling vital dalam membentuk ketahanan karakter dan mental remaja. Merujuk pada data nasional, Farid mengungkapkan bahwa 35% remaja Indonesia pernah mengalami bullying, baik di lingkungan sekolah maupun digital. Angka ini, menurutnya, menjadi alarm agar orang tua lebih aktif memantau kondisi emosional dan sosial anak.
“Dunia remaja hari ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Tekanan sosial, digital, dan lingkungan sangat berpengaruh pada cara mereka melihat diri sendiri. Orang tua harus hadir sebagai sahabat pertama mereka,” ujarnya.
Empat Bentuk Bullying yang Perlu Diwaspadai
Dalam pemaparannya, Farid menjelaskan empat bentuk perundungan yang umum terjadi, namun sering luput dari perhatian keluarga:
1. Bullying Fisik: memukul, menendang, atau merusak barang milik anak.
2. Bullying Verbal: hinaan, julukan merendahkan, ancaman.
3. Bullying Sosial: pengucilan, penyebaran gosip, mempermalukan korban.
4. Cyber Bullying: perundungan melalui media sosial, pesan pribadi, atau unggahan bernada merendahkan.
Para orang tua juga mendapatkan penjelasan mengenai 8 Dimensi Profil Pelajar Indonesia sebagai fondasi pembentukan karakter, mulai dari akhlak mulia, gotong royong, hingga kemampuan bernalar kritis.
Tiga Strategi Penguatan Keluarga: Empati, Komunikasi, Kolaborasi
Farid Muchlis menekankan bahwa pencegahan bullying harus dilakukan secara holistik dan dimulai dari rumah. Tiga strategi yang disarankan adalah:
- Menumbuhkan Empati: mengajarkan anak memahami perasaan orang lain.
- Komunikasi Terbuka: menciptakan ruang aman agar anak mau bercerita tanpa rasa takut dihakimi.
- Berkolaborasi dengan Sekolah: bekerja sama dengan guru dan konselor dalam memantau perkembangan sosial dan emosional anak.
“Ketika anak tahu rumahnya aman, mereka akan lebih kuat menghadapi dunia luar,” tegas Farid.
Kekerasan Seksual: Ancaman Nyata bagi Remaja
Sesi berikutnya membahas isu serius mengenai kekerasan seksual pada remaja, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Farid menjelaskan bentuk-bentuk kekerasan yang perlu dipahami orang tua, di antaranya:
- Pelecehan seksual
- Pemerkosaan
- Eksploitasi seksual
- Konten seksual online, seperti sexting dan permintaan foto tidak pantas
Orang tua juga diberi panduan langkah perlindungan, seperti mengenalkan keamanan tubuh, batasan sentuhan, serta pendidikan mengenai consent atau persetujuan.
Judi Online: Ancaman Baru di Era Gawai
Dalam sesi terakhir, narasumber menyoroti fenomena judi online yang makin banyak menjerat remaja. Akses mudah melalui ponsel membuat penyebarannya kian masif.
Tanda-tanda remaja terlibat judi online antara lain:
- Konflik mengenai uang
- Penurunan prestasi dan tanggung jawab
- Menarik diri dari keluarga
- Perubahan mood drastis
- Menjadikan judi sebagai pelarian masalah
Farid mengajak orang tua untuk membangun percakapan terbuka, menetapkan batasan penggunaan gawai, memantau aktivitas digital anak, serta mengarahkan mereka pada kegiatan positif seperti olahraga, organisasi, dan kreativitas. Bila sudah menunjukkan gejala kecanduan, orang tua disarankan mencari bantuan profesional.
Sinergi Keluarga dan Sekolah adalah Kunci
Seminar Parenting tiga hari ini menjadi momentum penting bagi SMA Negeri 9 Jakarta dalam memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah. Melalui paparan Farid Muchlis, SE, orang tua mendapatkan wawasan yang lebih tajam, praktis, dan relevan dalam mendampingi anak menghadapi tantangan era digital.
Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap isu bullying, kekerasan seksual, dan judi online, para orang tua kini diharapkan dapat menjadi pelindung utama sekaligus pendamping terbaik bagi putra-putri mereka di masa remaja—fase yang penuh dinamika dan pencarian jati diri.
[GI/Ida Farida)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar