Latest Post

Kader KOHATI Dituntut Tuntas di Ranah Domestik, Mumpuni di Ranah Publik

GENERASIINDONESIA | Korps HMI Wati (KOHATI) cabang Ponorogo baru-baru ini menyelenggarakan LKK (Latihan Khusus Kohati) tersebut bertepatan di hari Minggu 6 mei 2018. Acara yang diselenggaraakan di kota Reog tersebut mengusung tema "Terbinanya kader HMI-Wati yang menjunjung tinggi nilai-nilai keIslaman dan keIndonesiaan". Tema tersebut tentu memuat harapan besar dalam sepak terjang kohati hingga berdiri dewasa ini, harapan dalam membawa arah kohati dalam menjawab tantangan zaman.

Berdirinya Korps HMI-Wati tentu tidak terlepas dari bagaimana dinamika yang terjadi dalam fase sejarah juang HMI. HMI adalah organisasi mahasiswa tertua yang sangat menjunjung tinggi keIslaman dan keIndonesiaan dengan misi sederhana awalnya adalah "Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia" serta " Menegakkan Syiar Agama Islam". 

Sehingga ketika pembentukan Korps HMI-Wati (KOHATI) pada 17 september 1966 tidak terlepas pada fase sejarah perjuangan HMI yang waktu itu berada pada fase Kebangkitan HMI dan Pelopor pejuang Orde baru. Pada tahun 1966 terjadi pergolakan semangat Mahasiswa sebagai agen of change dengan menurunkan  Presiden, adanya Tritura sampai keluarnya Supersemar. Kenapa tahun 1966 merupakan fase pelopor? Karena pada saat itu wakil ketua PB HMI yaitu Mar'ie Muhammad menjadi koordinator Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Begitu banyak pengaruh HMI dari awal di bentuk sampai sekarang di lapisan mana pun kontribusinya dapat dirasakan.

Adanya forum kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Kohati seperti Latihan Khusus Kohati (LKK) menjadi sarana akselerasi peningkatan kapasitas peran kader HMI wati dalam mengemban misi HMI. 

Akselerasinya adalah bagaimana peran sebagai Kader HMI wati dapat termaksimalkan dengan baik sebagai pembina dan pendidik HMI wati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai keIslaman dan keIdonesiaan.  Sebagaimana diungkapkan Kabid PSDO PB HMI, Eva Nurfadilah Hasanah, "karena KOHATI adalah bagian dari Integral HMI maka sebagai Badan Khusus yang merespon Isu dan Dinamika Keperempuanan, harus bergerak pada Jalur  mewujudkan tujuan HMI," ujar Eva.

Aplikasi terhadap Ranah Domestik dan Publiknya harus seimbang, karena KOHATI sebagai Laboratorium kehidupan dan tempat belajar kader HMI wati bagaimana dia menjadi anak perempuan yang baik,  mempersiapkan calon istri,  calon ibu,  hingga disiapkan menjadi anggota masyarakat Profesional. Sehingga harapannya kader HMI wati mampu menyeimbangkan peran dan fungsinya di ranah domestik tuntas, ranah publik pun mumpuni. [*]

Festival Literasi Dua Bahasa Angkat Isu Keragaman sebagai Kekayaan

GENERASIINDONESIA | Speak Up:Festival Literasi Dua Bahasa degelar dalam menyambut Hari Buku Nasional dan Hari Pendidikan Nasional. Perhelatan yang mengusung tema “Keragaman adalah Kekayaan untuk Diberdayakan” dilaksanakan pada  Jumat, 4 Mei 2018 bertempat di Perpustakaan Nasional. 

Acara ini dilaksanakan guna memaknai kesadaran berliterasi bukan hanya membaca dan menulis, namun berliterasi juga tentang berbicara, meningkatkan rasa ingin tahu, mencintai ilmu, dan menghargai perbedaan.

Festival Literasi yang perdana ini dibuka oleh Professor Dr. Ing Wardiman Djojonegoro yang menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1993-1998. 

“Indonesia darurat membaca, industri literasi di Indonesia masih sangat rendah. Dengan membaca buku, Indonesia akan cepat maju”. Berpikir kritis juga merupakan bentuk literasi, apalagi di tengah meningkatnya tantangan sosial sekarang ini, tambah Wardiman. 

Pesta literasi ini juga melibatkan beberapa komunitas pegiat pendidikan dan keberagaman, antara lain Jakarta Toastmaster Club, Komunitas Dongeng Indonesia, Djakarta Improv Club, Komunitas Baca Gerak Gerik, Renita Center, Komunitas Puisi Unmasked, Sabang Merauke, ICT Watch, iBeasiswa serta London School of Public Relation (LSPR). 

“Seseorang akan mempunyai kemampuan empati yang baik dengan menguasai beberapa bahasa, utamakan Bahasa Indonesia, pergunakan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing” ujar Prof. Dr. Gufron Ali Ibrahim, Ketua Pengembangan Bahasa Kemendikbud. 

“Saya sangat bangga dengan banyaknya gerakan membaca yang digagas komunitas seperti kegiatan festival ini, pengunjung ke Perpustakaan Nasional juga semakin bertambah terutama sejak diresmikan September  2017, oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Selain koleksi buku yang lengkap, banyak ruangan tersedia untuk para komunitas berkumpul” tambah Yoyo Yahono dari Perpustakaan Nasional.

Festival Literasi yang pertama ini, berlangsung selama 3 (tiga) hari dari tanggal 4-6 Mei 2018, yang mengundang lebih dari 1000 anak muda setingkat Sekolah Dasar hingga Mahasiswa. Sesi open mic merupakan ajang unjuk kebolehan anak-anak muda untuk beropini sehat dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. 

“Acara ini memang ajang temu generasi muda untuk lebih mencintai literasi, alam, kreativitas serta menganggap perbedaan sebagai anugerah bangsa ini. Semua pendukung acara adalah para relawan pegiat literasi dan acara ini akan berlangsung setiap tahunnya” ujar Imung Hikmah, Koordinator Acara. [GI/Agus)



koordinator.liputan@gmail.com
0812-9167-7174

Jubah Wanita sebagai Pendidikan bagi Kartini Muda

GENERASIINDONESIA |  INDONESIA merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat terbanyak didunia. Jumlah penduduk ini sendiri dilansir oleh CIA World Factbook 2004 yang telah mencapai berkisar 255juta jiwa. Setengah dari jumlah penduduk Indonesia merupakan seorang wanita, fakta tersebut diperkuat oleh data BPS 2015 dimana sex ratio menunjukan bahwa setiap 100 jiwa wanita akan berbanding dengan 101 jiwa pria . Hal ini menunjukan bahwa begitu besarnya potensi wanita dalam mengawal kemajuan bangsa dan negara tercinta, Indonesia.

Berbicara mengenai potensi wanita dalam ikut sertanya dalam membangun bangsa ini, merupakan hal yang tidak mudah untuk turut mengembangkan peradaban bangsa. Sebab, pembahasan wanita merupakan salah satu hal mendasar dalam kehidupan manusia di muka bumi. Makhluk yang tuhan berikan kodrat sebagai wanita memiliki banyak sekali peran, beberapa diantaranya sebagai seorang anak perempuan, sebagai seorang ibu dan bahkan sebagai seorang istri yang memiliki tanggung jawabnya masing-masing. Hal tersebut tercermin pada peran seorang wanita dalam memberi kehidupan dan harapan baru bagi negara.

Wanita berperan penuh dalam meneruskan generasi muda di era apapun dan di daerah manapun. Wanita berperan sangat sentral dalam mendidik generasi selanjutnya. Wanita merupakan sebuah sekolah pertama bagi anak cucu bangsa. Wanita berperan sebagai salah satu tulang punggung keluarga demi membantu suami mencari nafkah. Betapa banyak sekali peran yang bisa dilakukan oleh seorang wanita dewasa ini.

Peran wanita-wanita Indonesia tidaklah lepas oleh peran seorang wanita yang terlahir pada tanggal 21 April 1879 yaitu Raden Adjeng Kartini. Beliau adalah salah seorang yang sangat dikagumi oleh bangsa ini. Sosok wanita yang selalu memberikan harapan dengan ilmu dan dedikasinya terhadap setiap wanita disaat masa gelap sedang melanda Indonesia. Harapan dan dedikasinya yang hidup pada hati wanita Indonesia inilah yang menjadikan wanita-wanita Indonesia menjadi seorang kartini-kartini baru di era millennial. Seorang kartini yang berilmu dan berdedikasi tinggi dalam menjawab permasalahan zaman.

Untuk menjadikan seorang wanita dengan kepribadian kartini di era modern ini tidaklah mudah. Dibutuhkan banyak aspek yang turut serta dalam membentuk karakter seorang wanita kartini salah satunya adalah pendidikan bagi wanita. Isu pendidikan di era modern ini memang sedang hangat diperbincangkan, bagaimana tidak hal tersebut disebabkan karena pendidikan salah satu penyokong kualitas manusia sehingga dapat membentuk pola pikir generasi yang solutif dan aspiratif. Mengingat pendidikan merupakan salah satu cara untuk merubah pola pikir manusia dari yang buruk menjadi baik dan baik menjadi lebih baik oleh sebab itu pendidikan sangat dibutuhkan oleh kaum wanita.

Menurut Subadio dan Ihromi pendidikan bagi kaum wanita tidaklah langsung terimplementasi seperti sebagaimana pendidikan yang digunakan oleh seorang lelaki, namun pendidikan wanita lebih mengarah pada pendidikan terhadap bangsa itu sendiri, yang mana artinya pendidikan wanita ini merupakan pendorong yang kuat dalam perkembangan suatu bangsa. Mengapa bisa disebut demikian? Hal tersebut merujuk mengenai bagaimana seorang wanita yang berkodrat akan melahirkan seorang anak yang menjadi generasi muda penerus bangsa. Ketika seorang wanita memiliki pendidikan yang baik maka dia akan mampu memberikan pendidikan yang baik pula terhadap anaknya. Seperti yang dijelaskan diatas, gender seorang wanita menjadikan dirinya sebagai sekolah pertama bagi anak cucu bangsa. Sayangnya dibeberapa daerah Indonesia kaum wanita masih kurang memahami betapa pentingnya pendidikan ini.

Seperti yang disebutkan pada paragraf sebelumnya wanita haruslah berpendidikan karena sebagai tonggak awal bagaimana bangsa akan berpola pikir. Dewasa ini, tingkat pemahaman wanita Indonesia akan pendidikan telah meningkat walaupun masih ada dibeberapa daerah terpencil masih menganggap pendidikan tak seberapa penting dalam kehidupan mereka. Pendidikan di Indonesia pada dasarnya terbagi menjadi tiga jenis, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan nonformal. Dari ketiga jenis pendidikan tersebut wanita mendapatkan kesetaraan dengan lelaki dalam berpendidikan.

Jika dilihat dengan keadaan yang sedang terjadi di Indonesia, dari ketiga jenis pendidikan yang ada Indonesia, titik berat pendidikan lebih kepada jenis formal dan informal. Hal itu dapat dirasakan dengan adanya penurunan rasa berbangsa dan bernegara pada generasi muda. Bagaiman generasi pemuda saat ini lebih condong pada budaya barat. Dan hal tersebut disebabkan banyaknya budaya yang tak terfilter sekaligus pendidikan nonformal pada generasi muda yang masih sangat kurang. Seperti yang sebelumnya dijelaskan bahwa pendidikan awal seorang anak adalah kepada ibunya. Hal ini menunjukan bahwa meski pemahaman pendidikan wanita meningkat namun pemahaman pendidikan nonformal bagi wanita kurang terpenuhi, hingga pada akhirnya menyebabkan lunturnya kepribadian bagsa Indonesia seperti moral, akhlak dan nilai Indonesia pada generasi muda.

Penurunan kepribadian bangsa ini jika terus dibiarkan maka akan memiliki dampak yang besar bagi bangsa. Dampak tersebut juga sangat memengaruhi banyak aspek, bahkan pada aspek kualitas manusia kedepannya. Penurunan kualitas ini juga dapat menghambat bagi wanita Indonesia dalam berperan sebagaimana semestinya. Hal terburuk adalah penurunan kualitas ini akan menjadikan wanita Indonesia kehilangan sosok kartini pada diri mereka. Oleh sebab itu, pendidikan yang sedari dulu telah diperjuangkan haruslah dijaga dan haruslah berjalan dengan seimbang antara pendidikan formal, nonformal dan informal. Hal itu merupakan salah sumber para kartini muda dalam memajukan bangsa. Seperti itulah pentinganya pendidikan bagi wanita, sehingga membuat pendidikan seperti perisai jubah dalam berperang mengarungi hidup.

Semakin banyak dan seimbangnya pendidikan yang didapat seorang wanita maka semakin banyak dan seimbangnya pula bangsa dalam melindungi dirinya. Begitu banyak sekali peran wanita bagi bangsa ini, sehingga sangat disayangkan jika peran wanita Indonesia tak disalurkan, ditempatkan dan digunakan pada waktu dan tempat yang tepat.

Hidup Kartini muda Indonesia !!!!

 
NUR AZMI JAMIL
Aktivis keperempuanan Pustaka Emas Kota Pasuruan dan anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika Unesa 2016.

Wajah Seni dan Budaya sebagai Hak Konstitusi

GENERASIINDONESIA | OPINI - Fluid Objects, ya itulah gambaran kehidupan manusia yang kental akan aktivitas seni dan budaya dimanapun manusia itu berada. Tak lain seperti “objek cair” yang selalu mengalir kemanapun takdir membawanya, bahkan ia pun bisa membuat arus yang deras sebagai aplikasi seni budaya dalam lingkungan yang mendukungnya.  Kata pembuka “fluid object” mengartikan bahwa seni dan budaya tak dapat dibatasi, dikebiri bahkan di musnahkan selama manusia masih hidup. Manusia akan cenderung membawa aliran seni, ide dan gagasannya serta apa yang ia anggap benar sebagai budaya yang ia anuti dalam sistem kehidupan yang kompleks ini.
Mensyukuri apa yang telah Tuhan fitrahkan sebagai makhluk yang berakal dan berprerasaan merupakan kewajiban kita sebagai umat manusia. Namun apakah hanya cukup mensyukuri? Memahami, mengembangkan dan memanfaatkan apa yang Tuhan berikan kepada kita dengan menuangkannya kedalam suatu bentuk karya yang terkonsepsi dalam sistem budaya juga merupakan kewajiban kita. Artinya kebutuhan kita dalam berkesenian dan berbudaya merupakan kebutuhan dan hak dasar yang membutuhakan langkah untuk mengembangkannya. Disinilah peran semua pihak termasuk pemerintah dan pelaku seni (seniman) serta budayawan dibutuhkan dalam menjunjung tinggi aktivitas seni budaya. Namun apakah semua pihak telah berperan sesuai kapasitasnya secara optimal?

Jaminan akan hak berkesenian dan berbudaya telah diatur dalam konstitusi Indonesia. “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya” begitu apa yang termaktub dalam pasal 32 ayat (1) UUD NRI 1945. Hal ini menekankan bahwa Negara sejak dulu telah hadir dalam menjamin hak dasar manusia dalam berbudaya. Namun apa yang tersurat dalam pasal tersebut tak lain akan menjadi angan belaka apabila tak ada implementasi melalui langkah strategis pemerintah dalam menjamin, melindungi dan memfasilitasi hak asasi manusia dalam berbudaya dan bekesenian.

Kita dapat melihat hingga sekarang pemerintah belum mengesahkan Rancangan Undang-undang Kebudayaan. Disamping itu, kita juga belum mempunyai payung hukum tentang dunia ekonomi kreatif. Pernyataan ini tak bermaksud untuk membicarakan lemahnya pemerintah dalam memikirkan sektor seni dan budaya, namun pernyataan ini dimaksudkan sebagai pendesak dan pendorong semata bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan di sektor seni dan budaya untuk segera merealisasikannya.

Dewasa ini, kita dapat mengelus dada dalam memandang hancurnya kesadaran pemuda dan anak-anak dalam mengembangkan seni dan budaya mereka. Bagaimana tidak, budaya bangsa yang seharusnya dikembangkan dan dimanfaatkan eksistensinya malah tak diurus dan lebih memperhatikan budaya barat dan korea sebagai implikasi dari derasnya globalisasi. Namun saya tak memilih itu. Berdiam diri dan menangisi keadaan tak akan mewujudakan harapan, karena ini hanyalah sikap naif kita dalam melihat zaman. Perubahan akan terjadi jika kita mulai mengambil sikap dari diri sendiri. Perhatikanlah budaya bangsa dan daerah, kembangakan potensi kesenian kita dengan harapan mampu memajukan ranah seni budaya bangsa dan daerah di kancah Internasional. Sehingga kita akan mendengar bahwa tarian saman yang memenangkan penghargaan World Unite Festival di Inggris menjadi kabar baik yang akan terulang kembali, di lain hari.

Harapan kita tak lupa dengan tragediillegal claim yang dilakukan oleh Malaysia terhadap budaya Indonesia. Ini salah satu pelajaran yang menampar wajah kita bahwa menjaga kesadaran dalam mengembangkan budaya daerah merupakan hal yang sangat penting. Kita tak dapat melarang warga Negara Malaysia atau WNI yang tinggal di Malaysia untuk mematikan budaya Indonesia, karena kembali pada sifat dasar seni dan budaya itu sendiri yang bersifat cair. Sejalan apa yang dikemukakan John F. Keneedy (US President 1961-1963) If art is to nourish the roots of our culture, society must set the artist free to follow his vision wherever it takes him. Langkah satu-satunya kita adalah menjamin sebaik-baiknya seni dan budaya serta aktivitas yang terkandung didalamanya baik oleh pemerintah, pelaku seni budaya dan masyarakat dari bangsa luar yang akan menikam identitas kita karena itu adalah hak dasar kita sebagai warga Negara Indonesia.

Budaya pada asasnya mengandung nilai-nilai yang luhur yang yang dianuti dan dianggap benar sebagai bentuk karya manusia. Dengan begini seni dan budaya yang kita miliki merupakan hak konstitusi umat manusia dalam berperikehidupan berbangsa dan bernergara. Merupakan keharusan bagi tiap-tiap elemen masyarakat dalam melindungi, mengembangkan dan memanfaat seni dan budaya bangsa.

Melihat rekam jejak pendidikan di bangku sekolah, sedikit banyak akan membuat kita geram terhadap kurikulum pendidikan yang terkadang tak proposional dalam mengawal dunia pendidikan hingga saat ini. Bagiamana tidak pendidikan kita tentang seni budaya hanya segelintir jam yang dialokasikan untuk pelajar. Ditambah lagi adanya stratifikasi mata pelajaran di bangku sekolah seakan-akan lebih mengutamakan pelajaran eksakta (ilmu pasti) daripada ilmu humaniora seperti sastra, seni dan budaya. Jika memang kita ingin mencetak generasi muda yang cinta akan budayanya mengapa pelajaran seni budaya tak secara instensif dan aplikatif dalam mengajarkan pentingnya budaya sebagi identitas bangsa? Jika kita ingin anak didik bangsa cakap dalam berkesenian dan meraup nilai ekonomi dalamnya mengapa tak plotkan kelas khusus di bidang industri dan ekonomi kreatif di bangku sekolah? Mungkin ini merupakan hal yang konyol, tapi saya yakin hal ini akan menjadi perhitungan stategis bagi bangsa dalam mengawal pelajar Indoensia untuk bersaing di ranah MEA (ASEAN Economic Community).

Kita dapat melihat uniknya bangsa New Zealand yang membuka kelas Seni Gamelan bagi para pengamat dan penggemar budaya Indonesia. Kita juga dapat melihat Amerika, Kanada dan Vietnam yang mengajarkan bahasa Indonesia yang notabenenya merupakan budaya nasional. Namun mengapa pemerintah tak tertarik untuk merancang seni dan budaya sebagai mata kuliah umum di tiap institusi pendidikan dengan alokasi 2 SKS saja? Mungkin inilah yang kita sebut sebagai krisis kesadaran, yang akan membunuh bangsa perlahan-lahan.

Sadarkah kita jika kita semua telah banyak diberikan self awereness terhadap seni dan budaya kita sebagai hak konstitusi yang perlu kita jaga dan pelihara, sudah berapa banyak dari kita yang mampu meraup keuntungan dengan memanfaatkan aspek ekonomi yang terkandung didalamnya. Minimnya apresiasi, pengakuan dan kesadaran terhadap eksistensi ini tekadang menghambat perkembangan potensi diri dalam berkesenian dan berbudaya. Jangan disalahkan bahwa hal ini akan berimplikasi atas bedirinya stigma bahwa “seniman dan budayawan tak menjamin hidup sejahtera dan mapan”. Sehingga tak heran jika mayoritas orang tua sejak dini lebih sering mengajarkan rumus matematika di banding mengajak belajar di museum atau galeri seni. Hal ini wajar, Karena ada sesuatu yang dianggap dan diakui lebih dibanding yang lain. Inilah yang kita sebut sebeagai teori startifikasi social, yang dianalaogikan dalam pembahasan ini. Sebelum kita mencapai antiklimaks dalam tulisan ini ada baiknya mengungkap apa yang dikatakan oleh Pablo Picasso (Spain Artist) bahwa Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up.

Memahami potensi diri demi merangkai kualitas insan yang dapat mempertahanakn eksistensi seni budaya bangsa adalah hal yang mutlak diperlukan saati ini. Dunia seni dan budaya merupakan hak dasar tiap umat yang harus dijamin, dikembangkan dan difasilitasi eksistensinya. Karena tanpa seni dan budaya berarti tak ada peradaban yang mampu diwariskan kepada anak cucu bangsa. Seni dan budayalah yang mampu mengantarkan kita memahami, menciptakan dan memuliakan sesuatu. Dalam menyongsong Hari Seni Dunia (World Art Day) 15 April Mendatang, semoga kita  mampu mengembangkan potensi diri, bangsa dan daerah dalam dinamika seni budaya global.


WILLY INNOCENTI
Anggota Awan Merah (Lembaga Semi Otonom Kesenian Mahasiswa Hukum Unesa) dan Aktivis Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia DPC Surabaya.

Kakek Penarik Becak Ini Ikut Kejuaraan Lari di Chile

Generasi Indonesia | Wow! Seorang kakek penarik becak asal Salatiga, Jawa Tengah, mengikuti kejuaraan lari di Chile. Darmiyanto, namanya. Sang kakek diundang untuk ikut kejuaraan lari di Chile, Amerika Selatan, mewakili Indonesia bersama tim atletik lainnya yakni Hartini Joko, Julia Yacub, Dedeh Irawati, Suwandi dan Ockben Saor Sinaga.

Kakek Darmiyanto,  akan mengikuti South American Masters Athletics Championship bagi master usia 35 tahun sampai 90 plus yang akan berlangsung tanggal 6-12 November 2017.

Kakek Darmiyanto yang tiap harinya menjadi pengayuh becak tersebut, setiap hari berlalri sejauh 12 km dari rumahnya di semarang menuju lokasi pangkalannya di Jalan Pemotongan, Kota Salatiga.

Sekretaris Umum PAMI Pusat, Merari Nainggolan mengatakan, Kakek Darmiyanto pada tahun 2016 ikut kejuaraan lari di Australia dan mendapat juara 3.

Di Chile, Kakek Darmiyanto telah didaftarkan untuk lari jarak 400 m, 1.500 m, 5.000 m dan 10.000 m.

Dalam event ini, Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI) mengirim 7 atlet dan seorang Team Manager kontingen PAMI, yakni Musasi Sagara.

[gi/det]

MARKAS 2017 Menyapa Tangerang Selatan, Cendol Gan!

GENERASIINDONESIA | Untuk kali kedua KASKUS dan Dyandra Promosindo kembali menyelenggarakan MARKAS (Market & Komunitas) 2017. Merupakan sebuah ajang kopi darat jual beli dan komunitas KASKUS yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari pada tanggal 26 – 27 Agustus 2017 di Area Outdoor Bintaro Xchange. 

Festival yang mengusung konsep O2O (Online to Offline) ini didukung oleh TOP Coffee sebagai sponsor utama dan diresmikan oleh Semuel Abrijani Pangerapan selaku Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Airin Rachmi Diany selaku Wali Kota Tangerang Selatan, Andrew Darwis selaku Founder KASKUS, Ronny W. Sugiadha selaku Chief Marketing Officer KASKUS dan Hendra Noor Saleh selaku Direktur Dyandra Promosindo.

“Kami ingin memberikan wadah bagi komunitas untuk kopdar dan saling mengenal satu sama lain sebagai bagian dari keluarga KASKUS. Kehadiran MARKAS ini diharapkan bisa memfasilitasi kebutuhan itu dan juga semakin meningkatkan persaudaraan antar Kaskuser. Kita disini bisa happy – happy bareng sambil kenalan dengan komunitas baru, dapat ilmu digital baru dari Selebgram, dukung jualannya teman – teman yang biasanya dilihat di lapak online Jual Beli aja, sampai dengerin lagu – lagu hits dari musisi ternama Indonesia.”, jelas Andrew Darwis, Founder KASKUS.

“Pengunjung yang datang ke MARKAS itu bisa dikatakan sebagai datang ke KASKUS versi offline. Jadi keseruan yang dirasakan pengunjung disini sebenarnya merupakan cerminan keseruan dan keragaman KASKUS di online, dengan harapan bisa menarik pengunjung yang non-Kaskuser untuk kemudian bergabung di forum kami. Pemilihan tempat di area Bintaro Xchange, Tangerang Selatan, juga menjadi nilai plus sendiri karena berdasarkan riset forum kami, area ini ramai dengan keaktifan dari komunitas otomotifnya. Harapannya kedepan mungkin tidak terbatas di forum Otomotif, tapi mungkin UKM lainnya yang khas juga bisa membentuk komunitas di KASKUS.” tambah Ronny W. Sugiadha, Chief Marketing Officer KASKUS.

Playground dan Otoground #MARKAS2017

MARKAS kali ini menghadirkan dua area utama kepada para pengunjung yaitu Playground yang diramaikan oleh 90 tenant bazaar F&B, lifestyle, serta fashion, promo Happy Hour, Live Auction, dan Community Lounge yang akan menghadirkan talkshow bersama selebgrams seperti Tahi Lalats, Geraldy Tan, Kok Bisa, Agung Hapsah, Tsamara Amany, dll. Sementara area Otoground akan diramaikan oleh ragam modification showcase, Cellograffiti performance, Pinstripping art performance, juga Sunday Morning Ride dan BBQ Party bersama komunitas otomotif KASKUS.  Selain itu, Kaskuser juga bisa bertemu dan melihat langsung aktivitas komunitas – komunitas KASKUS yang hadir di MARKAS yakni Photography KASKUS, SJCAM KASKUS, Drone KASKUS, Mini RC KASKUS, Can You Solve This Game (CYSTG), Pisau KASKUS, Badminton KASKUS, Komunitas Sepeda KASKUS, Traveller KASKUS, Outdoor Adventure Natuer Club (OANC), Vape KASKUS, Krusher, AAK, KSCK, S3rious, TKKC, Kojak, Sugus, Mio KASKUS community, Hosticus, Karisma On KASKUS, R15SER, Nouvus, Motovlog KASKUS, dan Regional Jabodetabek KASKUS.

Selain dua area utama tersebut, MARKAS juga menghadirkan bintang tamu ternama Indonesia yang akan meramaikan area Main Stage yaitu Sheila on 7, Rocket Rockers. Burger Kill, dan Orkes Musik Pengantar Minum Racun di hari Sabtu (26/8), sementara Kahitna, Barasuara, 90’s Hip Hop All Stars, dan Elephant Kind akan bermain di hari Minggu (27/8).

Dari perspektif penyelenggara, Kohen – sapaan akrab Hendra Noor Saleh menjelaskan bahwa, “MARKAS tahun ini akan menghadirkan keseruan yang berbeda dengan keberadaan dua area utama Playground dan Otoground juga artis – artis ternama yang diharapkan bisa memberikan pengalaman menikmati akhir minggu yang lebih menyenangkan, bagi seluruh kalangan pengunjung. Kami optimis MARKAS bisa menarik banyak pengunjung mengingat tempatnya pun sangat mendukung, tematik, dan strategis.”

Program Menarik Lainnya di #MARKAS2017

Hal lain yang bisa didapatkan oleh para Kaskuser dan pengunjung khusus di MARKAS adalah sesi ngobrol langsung face to face dengan Mimin KASKUS alias Andrew Darwis di Cafe TOP Coffee pada hari Sabtu dan Minggu setiap pukul 16.00 – 17.00 WIB. Mimin akan sharing pengalamannya membangun startup dan membesarkan KASKUS hingga menjadi salah satu tech leader di Indonesia komunitas diharapkan bisa memberikan inspirasi kepada Kaskuser yang hadir, sekaligus mengajak Kaskuser mengikuti Top Generation Challenge, sebuah kompetisi bagi masyarakat yang memiliki startup atau baru berencana membuat startup dimana mereka akan mendapatkan modal untuk mengembangkan ide yang dimiliki.  Tidak hanya itu, Mimin juga akan menyajikan kopi buatannya khusus bagi Kaskuser yang berkunjung ke Cafe TOP Coffee.

Bagi para pengguna layanan BCA yang hadir di MARKAS juga bisa mendapatkan beberapa keuntungan seperti pengguna Sakuku bisa membeli tiket masuk MARKAS seharga Rp. 60,-, diskon sebesar 50% untuk pembelian t-shirt MARKAS, dan di program “Happy Hour” bisa membeli makanan dan minuman hanya Rp. 5.000 dari harga normal Rp.30.000. Untuk pembuka rekening Tahapan Xpresi BCA, bisa mendapatkan gratis 50 tiket masuk dan merchandise t-shirt MARKAS. Sementara untuk pengguna Kartu Kredit akan mendapatkan diskon hingga 20% & pengguna Debit BCA mendapatkan diskon hingga 10% di tenant – tenant yang ada di MARKAS. 

[dyp/mahar]



FGD Expo 2017 Usung Tema Connectivity

FGD Expo 2017 usung tema Connectivity.  Foto: ist
GENERASIINDONESIA | Forum Grafika Digital (FGD) kembali menggelar pameran industri grafika Tanah Air di area Hall A dan Hall B, Jakarta Convention Center (JCC), selama empat hari mulai Kamis (24/8/2017) hingga Minggu (27/8/2017). FGDexpo terbuka untuk umum dengan harga tiket masuk Rp 50.000.

FGDexpo 2017 mengusung tema 'Connectivity', yang mana mengandung makna menjadi rantai nilai yang mengaitkan antara manufaktur, teknologi grafika, penyedia produk-produk dan jasa grafika, lintas media, dan penyedia jasa keuangan.

Lewat “Connectivity”, FGDexpo 2017 ingin memberikan pandangan baru dalam menyikapi isu-isu di industri grafika. Sehingga bisa memanfaatkan momentum untuk melahirkan kewirausahaan di seluruh lapisan masyarakat.

Chairman FGD Danton Sihombing mengatakan pihaknya menargetkan transaksi Rp 582 miliar. Pada dua tahun sebelumnya transaksi mencapai Rp 577 miliar.

FGDexpo 2017 diikuti 97 peserta, terdiri dari produsen, distributor, penyedia produk dan jasa grafika, asosiasi perusahaan dan profesi, institusi pendidikan, dan mitra luar negeri.
 
FGDexpo 2017 memperkenalkan lima pilar dalam industri kreatif, yakni Creative, Printing, Packaging, Publishing, dan Promotion.

“Saya menyambut sekali diadakannya pameran dua tahunan ini karena dapat menunjukkan the state of art dari apa yang kita miliki," ujar Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.

FGD Expo 2017 digelar bekerjasama dengan PT Amara Pameran Internasional (API), dan merupakan pameran yang ke-8 kalinya digelar. Menempati area pameran indoor seluas 12.000 m2 di Hall A dan B Jakarta Convention Center. FGDexpo 2017 menargetkan lebih dari 20.000 pembeli, baik perorangan maupun perusahaan.

[mahar]

-

-

-

-

Wafiq Griya Busana

-

-
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Generasi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by daguku