Notification

×

Iklan

Iklan

Header Ads

Mobil Itu Raja Garasi, Bukan Raja Jalanan (Menyoal Produktifitas Pengendara Sepeda Motor vs Mobil)

Minggu, November 30, 2025 | 15.24 WIB | Last Updated 2025-11-30T08:31:01Z


Essai Mahar Prastowo

Di Jakarta, mobil itu seperti gelar bangsawan. Di rumah ia dipoles. Di Instagram ia dibanggakan. Di parkiran kantor ia disombongkan. Tapi begitu dilepas ke jalan raya, gelar kebangsawanannya langsung dirampas oleh realitas: ia merayap seperti keong yang kepanasan.

Jakarta hari ini punya 3,7 juta mobil. Motornya? Jangan ditanya. 17,3 juta unit—seakan tiap orang punya dua. Kalau semua dinyalakan serentak, mungkin suara knalpotnya bisa menggoyang kubah Masjid Istiqlal.

Data kecepatan kota menunjukkan hal yang ironis: kecepatan rata-rata kendaraan di Jakarta hanya sekitar 23 km/jam. Itu angka resmi, rata-rata seluruh moda. Tapi di lapangan, banyak ruas yang jalanannya lebih lambat dari manusia jogging pagi.

Mobil, karena tubuhnya besar dan jalurnya terbatas, rata-rata hanya 15 km/jam.
Motor, dengan tubuh mungilnya, bisa sedikit lebih gesit: 20 km/jam.

Selisih 5 km/jam.
Kecil? Tidak. Dalam waktu tempuh 15 km, motor tiba 15 menit lebih cepat. Pulang-pergi berarti 30 menit sehari. Seminggu 2,5 jam Sebulan 10 jam. Setahun? 120 jam—setara 3 minggu kerja penuh.

Pengguna motor dapat “bonus hidup” 3 minggu per tahun. Pengguna mobil dapat “bonus stress” 3 minggu per tahun.



Kehidupan di Atas Roda: Siapa yang Lebih Produktif?

Produktivitas itu bukan cuma soal bekerja cepat. Ia soal waktu efektif yang bisa dipakai untuk hal penting.

Motor memberi waktu itu. Mobil memakan waktu itu.

Motor lebih cepat tiba. Lebih mudah parkir. Lebih mudah keluar gang. Lebih murah bahan bakar. Lebih sedikit waktu tersedot ke kemacetan. Kalau produktivitas itu dikonversi jadi nilai ekonomi, pengguna motor bisa menghemat puluhan jam kerja yang hilang per tahun.

Sementara pengguna mobil? Mereka menyumbang lebih banyak bensin terbakar, lebih banyak polusi, lebih banyak sumpah serapah di dashboard, dan lebih banyak energi mental yang terkuras.

Wajah-wajah lelah di balik kaca film itu bukan wajah kurang tidur. Itu wajah yang terkikis macet. Wajah yang menua di jalan.



Stres, Emosi, dan Kesehatan: Hutang yang Tak Terlihat

Banyak penelitian menegaskan bahwa kemacetan meningkatkan stres, tekanan darah, dan risiko penyakit. Pengguna mobil duduk lebih lama, geraknya lebih sedikit, pikirannya lebih mudah terbakar.

Motor juga tidak sepenuhnya bebas risiko. Tapi motor tidak mengurung pengendaranya dalam kotak besi yang dipanaskan aspal. Ia tidak “memfermentasi” emosi dalam kabin.

Dan yang paling berbahaya dari mobil bukan knalpotnya.
Tetapi ilusi kekuasaan yang ia berikan.

Mobil membuat pemiliknya merasa lebih tinggi dari motor. Padahal di jalan Jakarta, yang tinggi hanya angka stress-nya.



Emisi: Hutang Kolektif Kita pada Udara Jakarta

Mesin mobil yang merayap menghasilkan lebih banyak emisi per kilometer. Motor juga polutif—tapi mobil adalah “asap raksasa yang berjalan pelan”.

Jika satu pengguna mobil pindah ke motor atau transportasi umum, polusi yang dihasilkan turun drastis. Jika satu kantor melakukan hal yang sama secara bersama-sama, itu bukan lagi perubahan, itu revolusi udara.



Mobil: Aset atau Simbol?

Di buku keuangan, mobil adalah aset menyusut.
Di kehidupan sehari-hari, mobil adalah penyedot waktu.
Di jalan raya Jakarta, mobil adalah alat yang lebih banyak diam daripada jalan.

Maka sebaiknya mobil diperlakukan sebagai apa?
Sebagai barang simpanan. Bukan kendaraan harian.

Pakai saat penting.
Pakai untuk keluarga.
Pakai untuk perjalanan jauh.

Tapi jangan pakai untuk pergi 7 km ke kantor. Itu seperti memakai jas tuxedo hanya untuk beli nasi uduk di ujung gang.

Yang ingin produktif, yang ingin waktunya utuh, yang ingin emosinya waras: pakailah motor. Atau lebih baik lagi—naik angkutan umum. Di bus atau kereta, Anda bisa baca, bisa mengetik, bisa tiduran. Tidak ada klakson. Tidak ada adu gengsi.



Jakarta Tidak Butuh Lebih Banyak Mobil.

Jakarta Butuh Lebih Banyak Kesadaran.

Kesadaran bahwa cepat itu penting.
Bahwa udara bersih itu hak publik.
Bahwa transportasi massal itu bukan kompromi kelas sosial—tetapi pilihan peradaban.
Bahwa waktu yang kita habiskan di jalan adalah waktu hidup yang hilang.

Dan bahwa mobil — seindah apa pun bentuknya — tidak pernah bisa membeli produktivitas.
Hanya motor, bus, dan kereta yang bisa.

Hanya kesadaran yang bisa mengubah kota.



Artikel ini juga telah tayang di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update